가까이 (Closer)

Author : adhyra10

Title : 가까이 (Closer)

Genre : Sad-Romance

Length : Oneshoot

Rating : PG-16

Main Cast :

Kim Jongin/Kai EXO & Park Nara

Support Cast :

Lee Jieun(IU) & Jang Wooyoung(2PM)

A/N :

DHYRA’S BACK! DHYRA’S BACK! DHYRA’S BACK BACK BACK!

Ini kubawa ff yang gak tau kece apa gak, dengan main cast *play drum* dugeundugeun! KAAAAAI /okehebohsendiri/

ini pure bikinan ku! Maaf jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh, dan penggambaran tokoh. Karena ini saya mikir sendiri T_T huhuhu… So don’t forget to RCL chingudeul! Mwah2:D selamat membaca~

~*~

Perjalanan menuju itu memang saat-saat terberat. Namun kita hanya bisa menjalaninya sampai kita menemukan akhirnya. Walaupun itu bukan akhir sebenernya.

~*~
Yeoja yang mengikat kuda rambut sebahu nya itu berjalan ke arah halte bus yang lumayan dekat dari rumah nya. Kedua tangannya menggenggam tali ransel yang ia pakai. Dan kedua kakinya sibuk berjalan sambil menendang batu kerikil yang tergeletak di jalanan aspal sekitar komplek.
Pandangannya dari tadi tidak fokus karena otaknya sedang berusaha mencari cara untuk tidak mengulang-ulang kejadian malam 2 hari yang lalu.
Flashback.
Kai seorang namja bertubuh tinggi kini sedang bersandar di dinding rumah sakit. Ia sedang gelisah karena seseorang di dalam yang sedang menanti maut. Ia bahkan berkali-kali mengucapkan doa untuk orang itu. Seseorang di dalam itu bukan terkena penyakit akut dan sekarat karena sakitnya, tapi orang itu tadi ditemukan Kai yang baru saja pulang dari sekolah, tergeletak pingsan di depan ruangan kerja nya.
Di sebelah nya yeoja yang 1 tahun lebih muda dari nya berdiri dengan tanpa ekspresi. Ia bahkan tidak tau harus berbuat apa. Melihat wajah khawatir namja disebelahnya itu ia sangat ingin memeluknya. Namun status persahabatan mereka masih harus di genggam dan di ingat. Bukan, seharusnya sekedar memeluk saja itu bukan hal yang perlu di permasalahkan. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kalau ketika mereka berpelukkan sang namja dapat mendengar dan merasakan jantung yeoja yang memeluknya ini berlari sangat cepat? Yeoja ini bahkan belum siap sama sekali.
Perlahan-lahan pintu ruangan dokter yang memeriksa orang itu keluar. Ia tersenyum ramah ke arah Kai dan sahabatnya.
“Di sini, siapa keluarganya?”
Kai langsung berdiri. Orang itu sudah tidak mempunyai kedua orang tua nya lagi. Jadi Kai lah yang berjanji akan menjaga nya.
“Saya… Kekasihnya.” Jawab Kai yang membuat yeoja yang daritadi diam tidak berkutik itu langsung menengok ke arah Kai. Kekasih?
“Baiklah, dia hanya kecapekan. Dan pola makan nya tidak teratur maka dari itu dia pingsan.” Jelas dokter namja yang bertubuh gemuk itu.
“Aaa, baiklah. Boleh saya melihatnya?”
Dokter itu tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dan mempersilahkan Kai masuk kedalam.
Yeoja yang menemaninya tadi masih berdiri ditempatnya. Bahkan Kai tidak mengajak dia masuk juga. Ia hanya ingin pulang sekarang. Tapi kalau namja itu tiba-tiba terjatuh seperti tadi siapa yang akan menangkapnya? Baiklah, yeoja itu memutuskan untuk tinggal sampai Kai pulang.
Flashback end.
“Park Nara! Ya! Kau ini kenapa sih?!” Kai berusaha mensejajarkan langkah nya dengan Nara.
“Aish sunbae kalau kau mengejar-ngejar ku seperti ini, aku bisa di serbu dengan fans mu! Jangan dekat-dekat!” Nara semakin mempercepat langkahnya.
“Kau ini jangan sok menjadi hoobae yang taat dengan sunbae disekolah! Kau bahkan sering membuat kepalaku luka karena jitakkan mu!”
Nara tidak mengubris sama sekali kata-kata Kai. Ia masih kesal karena ternyata Kai tidak keluar-keluar dari ruangan rawat inap Jieun eonni. Nara harus pulang sendiri dengan wajah yang bahkan orang lain lebih memilih menjauh daripada dekat dengan Nara dan dimakan habis-habisan.
Sejujurnya Nara bukannya tidak mau bertemu Kai dan berbicara berdua. Tapi ia takut bahwa air matanya yang akan berbicara selama ia berada di hadapan Kai.
“Nara! Ku bilang berhenti!” Kai ternyata masih mengejar-ngejar Nara yang sedang menahan air matanya yang sudah berada di pelupuk mata.
Sampai akhirnya Nara melihat toilet yang terletak tidak jauh. Ia langsung berlari dan memasuki toilet yang sedang sepi itu. Ia menyandarkan pundaknya di dinding toilet dan merosot hingga terduduk. Nara bahkan masih mendegar suara Kai diluar yang meminta Nara keluar. Kai bahkan tidak mengerti apa kesalahannya. Jadi biarkan Nara menghukum Kai secara diam-diam.
Toh Kai juga tidak akan mengerti jika Nara menangis dan memintanya agar melupakkan Jieun eonni.
Nara menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ia berusaha untuk tidak menangis. Dan ya itu bukan hal yang sulit untuk Nara. Ia sudah terbiasa menahan rasa sakit.
Sejak Kai bertemu dengan Jieun eonni.
~*~
“Oppa, aku akan pulang sendiri hari ini.” Ucap Nara acuh tak acuh sambil membereskan alat sekolahnya ke dalam tas. Kai yang sedang memainkan bola basketnya dengan tangan langsung berhenti dan melirik ke arah Nara. Nara dan Kai tidak akan berselisih lama-lama. Mungkin hanya dengan hitungan detik mereka akan berbaikan lagi.
“Wae?” Kai menatap Nara lekat-lekat. Membuat Nara sedikit gelagapan.
“A..aku akan ke rumah Boram untuk mengerjakan tugas. Aku juga harus ke toko alat jahit dulu. Oppa kan juga bisa langsung ke rumah sakit, Jieun eonni pasti sedang menunggu.” Nara yang telah selesai beres-beres lalu memakai ransel nya dipundak dan berdiri.
“Kau yakin sendiri?” Kai yang tadinya bersender di meja. Menegapkan sikap berdirinya.
“Ne, aku bukan gadis berumur 5 tahun lagi kan oppa.” Nara tersenyum simpul. “Dan aku juga sudah terbiasa sendiri. Jadi oppa tenang saja.”
“Baiklah. Jaga dirimu ne? Aku ke rumah sakit dulu. Aku memang tidak sabar bertemu noona! Tidak bertemu dengannya berjam-jam saja membuat ku tidak bersemangat, ditambah lagi yang kulihat dirimu terus” jawab Kai sambil bercanda. Nara malah mengerucutkan bibirnya mendengar Kai berbicara seperti itu.
“Kalau begitu aku duluan oppa! Annyeong.” Nara berjalan keluar kelas dengan cepat. Ia meninggalkan Kai.
~*~
Nara berjalan ke arah kedai es krim kacang merah favorit nya dengan sahabatnya itu. Hampir setiap minggu pasti ia akan kesini. Tapi 4 bulan terakhir mereka jadi jarang kesini. Setiap pulang sekolah Kai selalu mengunjungi Jieun eonni di kantor nya. Ya, Kai dan Jieun eonni memang berpacaran. Mereka berpacaran kurang lebih 2 bulan yang lalu. Itu karena Kai yang sangat bersikeras untuk mendapatkan Jieun eonni.
Nara memasukki kedai itu dan seperti biasa ia akan disambut hangat oleh Jung halmoni pemilik kedai ini.
“Nara-ya~ akhirnya kau kesini lagi.”
“Ne, halmoni annyeong haseyo.”
Jung Halmoni tersenyum dan mempersilahkan Nara duduk disalah satu meja yang tersedia. Jung halmoni masih berdiri didepan Nara. Ia seolah tampak kebingungan dengan kedatangan Nara yang hanya sendiri.
“Kai, dimana anak itu?” Halmoni menanyakan Nara yang masih diam seribu bahasa.
“Ah, dia sedang sibuk. Aku hanya kangen bertemu dengan halmoni dan es krim nya! Jadi aku kesini.”
“anak itu! Seharusnya dia tidak membiarkan yeojachingu nya kesini sendirian.”
Nara langsung menatap halmoni dengan wajah bukan-seperti-itu. “Anni, halmoni. Aku dan Kai oppa tidak pacaran. Kami berdua bersahabatan dari sejak kecil.”
“Jinjja? Ku kira kalian berpacaran. Sungguh kalian sangat cocok sekali jika bersama.”
“Haha~ halmoni kami tidak mungkin berpacaran.”
“Tidak ada yang tidak mungkin Nara-ya, kebersamaan kalian bertahun-tahun tidak mungkin tidak menumbuhkan sesuatu di dalam perasaan kalian.”
“Halmoni, sudahlah~ aku ingin es kacang merahnya” kata Nara menggaruk tengkuknya karena sedikit risih di tanya seperti itu.
Halmoni hanya tersenyum lagi. Lalu berlalu untuk membuatkan satu porsi eskrim untuk Nara.
‘Perasaan tumbuh? Ya mungkin filosofi pertemanan antara laki-laki dan perempuan itu hanya untuk ku saja’ Nara melamun dan tersenyum sinis. Senyuman itu untuk dirinya sendiri. Untuk kebodohannya.
~*~
“Noona, apa yakin mau pulang hari ini?” Tanya Kai sambil merengkuh pipi kecil Jieun. Jieun tampak lemah dari biasanya. Jieun hanya mengangguk pura-pura semangat.
“Pekerjaan ku di kantor tidak bisa di diamkan lama-lama Kai-ah~”
“Ah ne noona. Kalau begitu biar aku bereskan barang-barang mu.” Kai tersenyum dan beranjak ke arah lemari yang disediakan rumah sakit.
Jieun memandang punggung Kai dengan perasaan yang bersalah. Kai. Namja berumur 5 tahun lebih muda itu tidak pantas untuk dijadikan pelarian seperti ini. Kai terlalu baik dan terlalu polos untuk dijadikan pelampiasan akan kekesalannya dengan namja yang dulu pernah hadir dalam kehidupannya. Sampai sekarangpun pikiran dan perasaan nya masih tercurah untuk namja itu.
Kai sebenarnya bukan namja polos. Ia sangat dewasa. Walaupun sikap labilnya lebih mendominasi.
“Noona! Selesai, Kajja kita pulang!” Jieun mengangguk dan menerima uluran tangan Kai.
Didalam mobil. Kai dan Jieun hanya berdiam diri. Jieun lebih banyak memandang keluar lewat jendela mobil. Kai serius memandang jalanan, berhati-hati dalam membawa mobil. Demi menjaga yeoja yang ia cintai ini.
“Sepertinya tadi aku melihat sahabatmu, Nara.” Jieun memandang kedepan lagi setelah ia tadi seperti melihat sosok yang ia kenali itu.
“Ah nde? Dia sedang dirumah temannya noona.”
“Oh, begitu ya? Mungkin aku salah liat.”
Lalu mereka diam lagi. Setelah 15 menit menempuh perjalanan akhirnya sampai didepan rumah Jieun.
Jieun sedang siap-siap untuk keluar.
“Kai, bisakah kita menghentikan nya sampai sini?”Ucap Jieun sambil menunduk.
“Nde?” Kai langsung menatap Jieun lekat-lekat.
“Kita akhiri hubungan ini. A..aku hanya menjadikanmu pelampiasan. Jeongmal mianhe…”
“Aku tidak mengerti noona.”
Jieun mencoba menatap Kai tepat dimatanya. “Aku tidak mencintaimu. Mianhe Kai.”
Kai langsung merengkuh Jieun dalam pelukannya. “Andwae kau sedang berbohong noona!! Aku mencintaimu. Sungguh, aku mencintaimu!!”
“Noona hanya menganggapmu sebagai dongsaeng noona.” Jieun tidak membalas pelukan Kai sama sekali. Ia terlalu bersalah dan tidak tega jika harus memberi sebuah harapan kepada Kai lagi.
Jieun mendorong Kai hingga pelukan Kai terlepas. Ia langsung beranjak pergi dari mobil Kai. Dan segera memasuki rumah.
Kai meninju setir mobilnya. Ia benar-benar kacau. Ia bahkan bisa merasakan bagaimana sakitnya dadanya saat ini.
Jieun noona, saranghae.
~*~
Handphone Nara bergetar hebat di atas meja belajarnya. Lagu Machine dari EXO-K terdengar sebagai ringtone nya. Nara yang baru saja mandi dan masih terlilit oleh handuk segera mengambil handphone nya.
“Kai?” Ia menatap layar handphone nya bingung. Ia langsung menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.
“Yobosseyo?”
“Agassi agassi! Apa anda kenal dengan pemilik nomor ini?” suara seorang laki-laki, namun bukan suara Kai terdengar.
“Ne, ini siapa?”
“Namja ini sudah menghabiskan berbotol-botol soju. Dan sekarang dia sudah mabuk dan sempat membuat kerusuhan disini. Tolong bawa dia pulang.”
“Ah nde, aku akan segera kesana. Kirimi saja alamat tempat nya!”
Nara lalu menutup handphone nya. Dan bergegas memakai baju. Ia hanya asal-asalan mengambil baju yang tersedia di lemarinya. Lalu memakai sendal yang tergeletak di pintu luar.
Ia berlari menyusuri jalanan komplek menuju jalan raya. Ia tidak peduli dengan udara dingin yang menusuk tulangnya. Ia bahkan lupa bahwa hari ini adalah musim dingin. Ia sama sekali tidak memakai baju hangat. Bahkan ia hanya memakai kaos dan kardigan tipis ditambah celana pendek yang seharusnya dipakai saat musim panas.
Handphone nya bergetar dan menampakan sebuah sms yang diterimanya. Ia langsung membuka nya. Setelah tau dimana tempatnya ia langsung mencegat taksi.
~*~
Nara langsung memasuki kedai yang didalamnya terdapat Kai. Setelah masuk ia dapat melihat kai yang tergeletak di bawah lantai sambil menundukkan kepalanya.
“Oppa, sadarlah.” Nara berjongkok didepan Kai yang terlihat tidak mempunyai nyawa. Nara menepuk-nepuk pelan wajah Kai.
“Noona.” Kai malah bergumam. Noona? Nara yang tidak tau apa-apa tadinya langsung berfikir bahwa Kai seperti ini karena Jieun eonni.
“Ne, kai-ah~ ayo pulang” daripada ia mengaku menjadi Nara. Mending ia pura-pura untuk sementara saja. Nara mencoba membopong Kai yang badannya lebih besar dan lebih berat darinya. Ia berusaha membungkuk memberi tanda terimakasih kepada ahjussi pemilik kedai itu.
Untung saja taksi yang tadi mengantarnya masih ia suruh tunggu. Jadi ia tidak repot-repot mencari taksi lagi. Didalam Kai menyenderkan kepalanya ke bahu Nara. Bau soju sangat menyengat di hidung Nara. Nara hanya menitikkan sedikit dari air matanya yang sudah ia tahan.
“Oppa, kita sudah sampai. Turun ya.” Ucap Nara ketika mereka sudah sampai didepan rumah super besar milik keluarga Kim. Sebesar apapun rumah ini, Nara pun yakin didalamnya hanya terdapat pelayan-pelayan yang mengurus rumah ini. Orang tua Kai mungkin berada di luar negri.
Nara membopong Kai menuju kamarnya. Tidak ada satupun pelayan yang berani menyentuh tuan nya ini. Sehingga Nara lah yang harus rela mengorbankan badannya yang kecil ini.
Nara meletakkan Kai di atas tempat tidurnya. Tanpa banyak bicara ia melepaskan sepatu Kai yang masih terpakai. Ia lalu mengambil handuk kecil yang terletak didalam lemari. Nara mengelap sisa-sisa keringat yang menempel di wajah Kai. Setelah itu ia menyelimutkan Kai hingga lehernya.
Nara duduk di kursi sebelah tempat tidur king-size milik Kai. Ia berusaha terjaga sepanjang malam. Yang terdengar hanya rintihan dan kata ‘noona’ atau ‘saranghae’ yang keluar dari mulutnya. Nara berusaha menutupi rasa sesaknya itu sambil menatap iba Kai. Sambil berfikir apa yang membuat Kai jadi seperti ini.
Namun ternyata menahan matanya terbuka selama 2 jam untuk memonitor Kai itu sulit. Akhirnya Nara pun tertidur di bangkunya.
~*~
Sinar matahari pagi masuk melewati celah-celah jendela kamar. Perlahan mata Nara terbuka karena terusik oleh teriknya sinar. Aneh. Kenapa dia tertidur dengan sangat nyaman? Bahkan kursinya berubah menjadi empuk dan panjang sehingga dia bisa tertidur seperti di ranjang. Bahkan ia bisa merasakan hangat nya selimut walaupun pendingin ruangan sedikit terasa.
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya hingga sepenuhnya terbuka. Dia baru menyadari bahwa ia bukan tertidur dibangku lagi. Ia berada di atas kasur! Dan ini adalah… Kasur KAI!!!
Nara langsung terduduk dan celingak celinguk ke arah kanan kiri sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Tepatnya ia membayangkan apa yang terjadi tadi malam sehingga dia berada di atas kasur. Ia mengecek bajunya. Dan nihil, baju nya masih lekat menutupi tubuhnya.
Suara pintu terbuka terdengar. Nara langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Ia melihat namja yang baru keluar dari kamar mandi.
“AAAAAAAAA!!!” Nara berteriak histeris ketika melihat Kai yang hanya terlilit oleh handuk dipinggangnya. Dia lalu menutup matanya sambil membenamkan dirinya didalam selimut.
“Ya! Ya! Shut up! Bisa-bisa satu rumah gempar dan mengira aku melakukan sesuatu padamu!” Kai jadi ikutan panik. Ia mengira Nara masih tertidur. Kai lalu memakai pakaiannya yang sudah siap di atas meja. Untung saja hari ini awal weekend jadi Kai tidak repot-repot bergegas untuk sekolah.
Kai berjalan menuju kasurnya. Dimana Nara masih terduduk sambil menutupi seluruh badanya dengan selimut. Kai terkekeh pelan melihat tingkah Nara. Ia menarik selimut yang di pakai Nara, membuat Nara reflek menutupi matanya dengan tangan nya.
“Aku sudah memakai baju Park Nara.” Nara mengintip dari selah-selah jarinya. Setelah memastikan bahwa Kai memang telah memakai baju.
Seperti tidak ada masalah lagi, Nara lalu memegang tangan Kai. “Oppa, gwenchana? Kenapa kau mabuk tadi malam? Aku…takut.”
Kai mengacak rambut Nara gemas. “Aku memang sedang sedih. Kemarin Jieun noona memutuskan ku.”
“Jeongmal?”
“Ne, kau tidak perlu khawatir Nara. Aku akan berusaha sampai noona balik lagi dengan ku.” Jawab Kai. Nara tidak berkata apapun lagi. Perlahan ia menarik tangannya yang tadi menggenggam tangan Kai.
“Kau yang memindahkan ku ke kasur huh?”
“Ne, kau itu bodoh sekali udara sangat dingin malah memakai celana sependek itu!”
“Tidak apa-apa. Aku terburu-buru sehingga asal saja memakai baju. Itu kan gara-gara oppa!”
“Ya! Kenapa menyalahkanku?!”
Nara menjitak kepala Kai. “Itu untukmu yang sembarangan mabuk sampai menyusahkanku.”
Kai membalas jitakkan Nara. “Dan ini untukmu karena kau aku harus berbagi tempat tidur yang sempit ini denganmu!”
“MWO!??? Jadi tadi malam kau…dan…aku…?”Nara terbengong-bengong takut memikirkan apa yang terjadi.
“Ya! Kau membayangkan apa huh?!”
“Anni! Aku tidak membayangkan apa-apa!”
“Huuu Nara ku sudah dewasa!” Nara kesal dan beranjak pergi dari kamar Kai. Sebelum Nara turun dari tempat tidur Kai, Kai menahan tangan Nara dan menarik Nara kedalam pelukannya.
“Gomawo~”
tiba-tiba suara Kai berubah menjadi super lembut. Kalau Nara berkaca mungkin wajahnya sudah memerah. Nara mendorong Kai menjauh ketika mendapatkan kesempatan untuk terlepas.
“Nappeun~ aku pulang! Annyeong!”
Nara menutup pintu kamar Kai dan bersandar di pintu itu sebentar mencoba merasakan jantung nya yang berdebar, dan perutnya yang serasa di terbangi berpuluh-puluh kupu-kupu.
Sementara di dalam Kai masih duduk di pinggiran kasurnya. Sambil memegangi dadanya, sepertinya baru kemarin ia merasakan sakit yang luar biasa disini. Namun kenapa setelah bertemu dengan Nara justru perasaannya jauh lebih tenang dan dibagian dadanya itu terasa gemuruh detakan jantung nya yang abnormal?
Perasaan, bertahun-tahun berteman bersama Nara, baru kali ini ia melihat Nara begitu manis dan begitu ‘wah’ di matanya.
~*~
Keesokan harinya.
Kai mengarahkan mobilnya ke rumah yang terletak dipinggiran kota Seoul. Entah kenapa hari ini ia ingin mengajak Nara jalan-jalan. Ia sudah memberi tau Nara akan ke rumahnya hari ini.
Sesampai nya disana Kai memarkirkan mobilnya di depan rumah Nara. Kai menekan bel rumah yang terletak disebelah pagar. Wanita paruh baya keluar dari rumah yang sederhana itu.
“Annyeonghaseyo, ahjumma~” sapa Kai sopan terhadap eomma Nara.
“Ah~ Kai annyeong haseyo~ masuk dulu, Nara masih di dalam kamar.”
Kai mengangguk dan masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang keluarga. Kai sudah dianggap keluarga sendiri oleh keluarga Nara. Jadi apapun yang dilakukan Kai sah-sah saja didalam rumah ini.
“Nara sudah mandi 1 jam lalu, tapi sepertinya dia memilih baju lama. Apa kalian akan berkencan? Sudah lama ahjumma tidak melihat Nara se semangat ini.” Ucap eomma nya Nara sambil tersenyum-senyum. Kai hanya mengangguk. Entah kenapa Kai ingin mengganggap hari ini adalah kencan.
“Oh! Jeongmal? Pantas saja. Aigooo~ kalian sudah besar ya~” ucap Eomma Nara senang.
“Oppa~?” Suara yeoja terdengar dari belakang eomma Nara berdiri.
“Aigo!! Anak eomma?!” Pipi Nara sudah bersemu merah. Ia memakai dress putih gading selutut tanpa lengan yang kasual di percantik dengan flat shoes yang senada dengan warna bajunya. Kai mengerjap-ngerjapkan matanya ketika melihat Nara.
“Memang apa yang salah eomma? Oppa?” Tanya Nara kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Apa bajunya terlalu berlebihan? Ah sepertinya aku harus menggantinya.”
“Anni, jangan.” Kai menghampiri Nara yang berdiri disebelah eommanya. “Ahjumma, kami pergi dulu.”
“Ne, bersenang-senanglah.”
Kai menggenggam tangan Nara dan menggiringnya masuk ke dalam mobil. Nara merasa bingung dengan apa yang dilakukan Kai untuknya. Tapi ia memilih untuk diam.
Diperjalan mereka lebih banyak diam. Entah atmosfer apa yang tiba-tiba membalut mereka berdua.
“Nara, kau cantik hari ini.” Ucap Kai datar namun dapat membuat Nara memanas sepersekian detik.
“Cih, Kau tidak cocok menggombal oppa.”
“Kau juga tidak cocok berdandan seperti itu!”
“Ya! Gimana sih, tadi aku mau mengganti pakaian ku tidak boleh?”
“Anni, aku berbohong, justru aku senang kau berdandan seperti ini. Setidaknya aku sadar kau telah sedikit berubah.” Kai menoleh sedikit ke arah Nara yang sedang melirik keluar jendela.
“Bagaimana denganmu dan jieun noona?” Nara mengalihkan pembicaraan. Daripada ia makin salah tingkah.
“Aku tidak memikirkannya lagi, hari ini jangan bicara apapun tentang Jieun noona!”
“Wae?”
“Aku malas.” Jawab Kai pendek. Lalu atmosfer membingungkan itu tercipta kembali.
Setelah beberapa lama. Kai membelokkan mobilnya ke arah taman yang ukurannya lumayan besar.
“Kita bermain disini saja ya?” Tanya Kai.
“Lalu apa yang kita lakukan disini?”
“aku sudah lama tidak mengobrol berdua denganmu, jadi… Kajja kita berjalan-jalan sebentar.”
Sepanjang perjalanan Kai tetap menggenggam tangan Nara. Ia seperti tidak mau Nara tiba-tiba menghilang dari jangkauannya.
Mereka memilih duduk di atas rerumputan hijau yang luas dan terlihat sepi. Disana Kai menunjukkan beberapa gerakan baru yang ia ciptakan. Kai memang menyukai menari. Dan Kai akan selalu menunjukkan gerakan barunya kepada Nara.
Setelah menunjukkan gerakan-gerakannya. Kai pun duduk disamping Nara. Lalu ia merebahkan diri di atas rerumputan. Nara mengikutinya. Dulu mereka sering melakukan kegiatan seperti ini dan berbicara satu sama lain.
“Oppa, dulu kau itu jahil sekali ya sampai sekarang sih.”
“Tapi karena kejahilanku, kita berkenalan kan?”
“Ne. Kau itu bocah menyebalkan dulu!”
“Dulu? Sekarang?”
“Ya tetap oppa!”
“Nara”
“Ya”
“Nara”
“Ya”
“Nara”
“Aish!!! Kau ini kenapa sih oppa?” Nara langsung mendudukan dirinya. Kai langsung terkekeh.
“Anni, hanya ingin memanggil namamu saja.” Kata Kai. Nara mencibir.
“Jongin oppa”
“Ne?”
“Jongin oppa”
“Aish kau mau balas dendam?!”
“Hanya aku yang boleh memanggilmu dengan Jongin, arra?!”
“Aish dasar”
Nara terkekeh juga. “Oppa kalau kau sudah menikah. Aku tetap sahabatmu tidak?”
Kai menatap Nara bingung. “Tentu saja.”
“Oppa, kau janji tidak akan meninggalkanku sendirian?”
“Ne. Aku kan sudah sering berjanji dan aku tak pernah melanggarnya kan?” Kai memandang punggung Nara dari belakang. Nara hanya diam tidak menanggapi kalimat pertanyaan sekaligus pernyataan Kai.
“Baiklah, aku akan mengingatnya” Nara sekarang kembali berbaring disebelah Kai. Nara memejamkan matanya berusaha menghirup banyak-banyak aroma tubuh Kai yang berada tepat disebelahnya.
“Nara-ya, aku ke kamar mandi dulu ya?” Nara mengangguk kan kepalanya.
Kai lalu beranjak dan menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh. Jantung nya kembali abnormal seperti kemarin. Ia berusaha menghirup banyak-banyak oksigen. Kalau tidak ia mungkin akan pingsan.
Ketika sedang mencuci mukanya, ia merasa handphone yang berada di sakunya bergetar. Ia melihat siapa yang menghubunginya, ternyata Jieun noona. Walaupun ragu namun akhirnya Kai mengangkatnya.
“Noona?”
“Kai, sakitt”terdengar rintihan kesakitan seorang yeoja disana.
“Wae? Noona kau dimana?!”
“Rumah”
“Aku akan segera kesana!”
Kai langsung mematikan telfonnya. Dan menuju rumah Jieun. Meninggalkan Nara.
~*~
Sudah hampir 30 menit Nara menunggu Kai yang tidak kunjung kembali dari kamar mandi. Nara pun akhirnya menyusul Kai. Ada sedikit perasaan takut di terselip di hati nya. Seperti nya ia akan dihadapi perasaan kecewa lagi?
Keadaan disekitar kamar mandi sepertinya sepi. Dan tidak menunjukkan bahwa ada orang disekitarnya. Nara mencari handphone nya yang terletak di dalam tas. Lalu ia mencari-cari nomor seseorang di kontaknya.
“Yobosse…”
“Nara-ya mianhae, Jieun noona! Dia sekarat lagi… Kau bisa pulang sendiri kan? Maaf sekali lagi Nara-ya”
Tut..tut…tut…
“Jongin-ah….”
Nara langsung terduduk lemas. Dan menangis sejadi-jadinya sambil tangannya sesekali memukul dadanya yang terasa perih itu. Sepertinya ia sudah salah berharap lebih hari ini.
Sekali Jieun noona, ya, Jieun noona.
~*~
“Kau tau? Kemarin aku dan noona sudah berbaikan lagi! Aku resmi jadi pacarnya sekarang Nara-ya. Kau senang kan?” Kai tersenyum-senyum seperti orang gila. Nara yang mendengarnya hanya tersenyum simpul dan terus membaca buku yang ada di tangannya.
“Kau tidak senang, huh?”
Kai mengambil secara paksa buku yang dipegang oleh yeoja disebelah nya itu. Nara mendengus kesal. Daritadi ia sedang berusaha menahan tangisannya yang hampir pecah.
“Anni, aku senang kau bersama Jieun eonni, Kim Jongin.” Nara hanya memasang tampang datarnya. Ia lalu merebut buku nya lagi. Lalu beranjak dari duduknya.
“Chukkae”
Kata itu kata terakhir yang dapat ia ucapkan sebelum meninggalkan Kai sendirian. Kai hanya terbisu sambil melihat punggung Nara yang mulai menjauh. Entah kenapa, bukan kata itu yang ia harapkan dari mulut seorang Park Nara.
~*~
“Jieunie, kapan kau akan menjauhi Kim Jongin?” Terdengar suara seseorang yang diyakinin adalah seorang namja.
“Aku akan,Wooyoungie. Setelah rangkaian pengobatan ini selesai. Aku hanya ingin membuat namja itu senang sekali saja. Dia sudah banyak membantuku.”
Kai hanya terdiam mematung di depan pintu kamar rumah sakit dimana Jieun di rawat. Ia menggenggam kenop pintu kamar itu erat.
“Justru itu akan membuatnya sedih Jieunie. Apalagi setelah pengobatan ini selesai kau akan langsung menikah denganku.”
Deg.
Menikah.
“Noona…” Kai langsung membuka pintu kamar tersebut.
“Kai…”
“Benarkah yang barusan aku dengar?”
“Aku bisa jelaskan terlebih dahulu. Maafkan aku…”
“Anni, tidak usah. Terimakasih untuk 2 minggu menjadi yeojachingu ku dan selamat tinggal. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal noona.”
Kai lalu menutup pintu secara kasar. Di dalam Jieun menangis sambil menutup mulutnya agar tidak terdengar isakkan. Wooyoung, namja yang sebenarnya telah menjadi tunangan Jieun, merengkuh tubuh mungil kekasihnya ke dalam dekapannya.
“Apa yang kau lakukan sudah benar, Jieunie. Uljjima, ada aku”
~*~
Kai kembali menghabiskan berbotol-botol soju. Seperti kejadian waktu itu. Tapi beda nya, sekarang ia ditemani oleh Nara. Nara masih sadar sepenuhnya karena ia tidak berniat meminum soju seperti Kai. Kenapa Nara berada di sebelah Kai? Kai yang memintanya untuk menemani. Kai sedari tadi hanya berbicara tidak berhenti dibawah alam sadar nya.
“Sikap mu. Kenapa kau menjauhi ku setelah aku berpacaran dengan Jieun noona?” Nara hanya diam, tidak menanggapi ocehan Kai. “Ya! Kenapa tidak menjawab?!”
Nara lalu bangkit dari duduknya. “Kalau namja itu meminta botol soju lagi, mohon jangan dikasih lagi ya ahjussi?” Nara lalu membayar botol soju yang diminum Kai lalu keluar dari kedai.
Kai yang melihat aksi Nara, lalu mengejar Nara yang baru saja keluar. Setelah menemukan Nara yang sedang berjalan. Kai langsung menghampiri Nara dan menahan tangan yeoja itu.
Nara reflek berhenti dan menghadap Kai. “Lepaskan.” Nara mengeluarkan suara dingin itu lagi.
Kai yang masih dengan keadaan setengah sadar tidak merespon permintaan Nara tersebut. Ia langsung menarik Nara mendekat dan
Chu~
Kai mencium Nara secara paksa. Nara yang kaget akan perlakuan Kai, langsung mendorong tubuh yang seharusnya lebih kuat dari dirinya.
“YA! MICHIEOSSO?!” Nara langsung menangis karena tidak menyangka Kai akan berbuat seperti itu terhadapnya.
“Kau mencintaiku! Itu alasan kau dingin padaku akhir-akhir ini! Aku benarkan?!” Kai berteriak seperti orang gila. Untung jalanan ini sepi. Jadi tidak ada yang melihat kejadian ini. “JAWAB AKU NARA-YA! KAU MENCINTAIKU KAN?!”
Dengan seluruh kekuatan yang ada Nara menampar Kai. “SADAR LAH JONGIN-AH! KAU SUDAH GILA!”
Kai langsung memegang pipinya yang barusan ditampar oleh sahabatnya itu. Kai menahan tangan Nara lagi.
“Lepaskan Kim Jongin…”
“Shiroh” Kai menunduk tidak mau melepaskan genggamannya. Nara menghela nafasnya kasar.
“Kau benar, aku mencintaimu. Seorang Kai yang selalu di elu-elu kan setiap yeoja di sekolah. Yang tidak pernah melepaskan hatinya kepada orang lain untuk seorang yang lebih tua daripada nya. Yang tidak pernah melihat seorang Park Nara yang telah bertahun-tahun disampingnya. Sekali lagi kau benar, aku sangat mencintaimu sampai rela membiarkan rasa sakit yang tidak wajar ini bertengger terus di dalam diriku. Tapi aku tahu seorang Kim Jongin tidak akan melirik ke arah ku. Jadi lepaskan tangan ku sekarang Kai.”
Perlahan Kai merenggangkan genggaman tangannya di pergelangan tangan Nara. Nara langsung menarik tangannya kasar dan berlari sejauh-jauhnya dari hadapan Kai.
~*~
Sudah sebulan semenjak kejadian itu. Hari ini adalah hari pernikahan Jieun dan Wooyoung.
Kai sudah mulai merelakan Jieun noona. Setelah pengakuan Nara, ia juga telah membuka pintu hati yang tadi nya tertutup rapat untuk Nara.
Tapi sampai sekarang Kai tidak dapat menghubungi Nara sama sekali. Saat Kai menghampiri rumahnya pun, eomma dari Nara berkata bahwa putri nya tersebut tidak ada di rumah. Di sekolah, saat Kai ingin menyapa Nara. Nara selalu menghindar dari Kai. Dan itu membuat nyali Kai ciut.
Kai memasuki gedung resepsi yang di senggelarakan di sebuah hall besar milik Wooyoung.
“Noona, hyung. Chukkae!” Ia tengah berada di antara Jieun dan Wooyoung yang dari tadi tidak berhenti melemparkan senyuman bahagia.
“Gomawo, Kai. Dimana Nara? Bukannya aku mengundang dia juga?” Jieun mencari-cari Nara yang seharusnya ada di sebelah Kai.
“Aku tidak tau noona mengundangnya.” Kai menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Mungkin dia datang sendiri nanti”
“Pabo! Kau ini bagaimana sih! Masih belum berbaikkan? Dekati sebelum dia di rebut yang lain!” Kata Jieun noona lagi.
“Ah, arraseoyo. Tenang saja dia tidak akan pernah berpaling dari namja tampan ini noona. Aku yakin.” Kai nyengir-nyengir kuda saking pede nya.
“Siapa bilang huh?” Tiba-tiba terdengar suara yeoja dibelakang Kai. Reflek Kai membalikkan badannya. “Kau pede sekali.”
Kai tersenyum lebar melihat yeoja yang sudah ia rindu berminggu-minggu itu berada dihadapannya sekarang.
“Eonni oppa, chukkahamnida! Aku turut bahagia dengan pernikahan kalian.” Nara memeluk Jieun erat. Walaupun tidak terlalu kenal tapi Nara dan Jieun seperti sudah dekat karena dulu Kai suka mempertemukan mereka berdua.
“Kamsahamnida, Nara-ssi. Maafkanlah Kai, kau tahu dia hampir gila sebulan ini?” Jieun mengucapkan nya tanpa rasa bersalah. “Ah, ku rasa aku salah bicara. Aku tinggalkan kalian ya, ada tamu lain yang harus ku hampiri.” Kai melemparkan death-glare nya ke arah Jieun. Jieun hanya terkikik dan langsung menarik tangan suami nya menjauh dari Kai dan Nara.
“Temani aku ke luar.” Tanpa aba-aba Kai sudah menarik Nara secara paksa keluar gedung. Nara hanya pasrah di tarik seperti itu oleh Kai. Jujur ia sangat merindukan namja satu ini.
~*~
Di tengah-tengah labirin yang sepi. Kai masih mengatur nafasnya karena kecapekan mencari letak taman kecil di antara labirin disebelah gedung pernikahan Jieun dan Wooyoung. Kai belum melepas genggaman tangan nya dari Nara. Nara juga tidak berusaha memberontak.
“Saranghae Nara-ya.”
Kai membalikkan badannya menghadap Nara. Nara mencoba mencari kejujuran di mata Kai. Dan sungguh ia dapat menemukan kejujuran itu langsung, saat menatap Kai.
“Jebal, jangan jauhi aku lagi. Ini lebih sulit dari yang ku kira. Maaf kan aku atas segala kebodohanku selama ini. Kau terlalu berarti dalam hidupku Nara-ya. Saranghae…”
Nara menunduk tidak sanggup mengontrol detakan jantungnya yang sudah liar.
“Nara-ya”
“Jongin-ah”
Dalam waktu yang sama mereka berdua bertatapan.
“Nado saranghae” ucap Nara pelan. Namun masih dapat terdengar dari pendengaran Kai. Kai langsung memeluk Nara.
“Aku janji, aku tidak akan meninggalkan mu Nara-ya.”
Nara sudah terisak di dalam pelukan Kai. Kai yang menyadari yeojachingu nya itu menangis langsung menghapus nya lembut. Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Nara. Tinggal beberapa centi lagi….
“Eomma! Mereka sedang apa?!” Seorang namja kecil ternyata sedang berjalan-jalan bersama eomma nya mengelilingi labirin ini.
“Aish dasar anak muda!” eomma anak tersebut langsung menarik anak nya menjauh.
Kai dan Nara langsung menghentikan kegiatannya dan menjadi salah tingkah.
“Aish dasar bocah. Menggagalkan suasana romantis saja! Ayo teruskan lagi!”
Kai langsung menarik tengkuk Nara dan mendaratkan kecupan manis di bibirnya.
Ini baru akhir dari perjalanan menuju itu. Setelah ini masih ada perjalanan yang harus kami lalui lagi. Jadi ini belum akhir kan?
END.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s