I Choose You

Title: I Choose You
Author: adhyra10

Genre: Romance

Rating: 16+ (Teenage)
Length: One Shoot

Main Cast:
– Jang Hyorin (OC)
– Choi Minho (SHINee)
– Huang Zi Tao (EXO)
Support Cast:
Find it by yourself πŸ™‚

DISCLAIMER:
I do not own the cast! Semua nya milik Tuhan. Ide cerita ini pun milik-Nya yang disalurin ke aku! Jadi tolonglah menghargai pemilik ceritanya. Maaf kalau ada kesamaan tokoh, penokohan, latar, dan jalan cerita. Ini murni dari imajinasi ku! πŸ™‚

——————–

Perasaan bisa berubah. Begitu juga dengan ku? Ada yang salah? Aku rasa semua pasti bisa baik-baik saja!

~*~

Hyorin’s POV

BRUK!!

Apa yang patah? Aish… Jangan lagi T.T

“Ya!! Jang Hyorin! Apa yang kau lakukan?!” Belum aku berhasil melarikan diri. Lee seosangnim sudah memanggilku dengan sebuah teriakan. Matilah aku.

Lee seosangnim menghampiriku dengan satu tangannya memegang kayu pendek dari patahan kursi. Ya memang itu aku yang patahkan? Jangan salahkan aku!! Ini semua gara-gara sekolah tidak menfasilitasi muridnya dengan baik. Masa hanya di duduki seperti itu patah? Hih…

“Kau tau Hyorin, kau benar-benar harus membenahi tubuhmu!” Kyah, dia membawa-bawa soal tubuhku yang….x-tra large? Memang salah apa!! Huh

“Jweosonghamnida seosangnim” kataku sambil membungkukan diri. Mau apa lagi selain minta maaf dan sehabis ini menelfon kedua orang tua ku untuk meminta uang untuk ganti rugi. Kau tau ini bukan kejadian yang pertama? Sebenarnya aku capek juga menjadi orang gemuk, tapi apa boleh buat kalau semua makanan itu terlihat sangat baik hati mengajak ku makan? Kkkk

Sudah 15menit setelah Lee Seosangnim akhirnya menyelesaikan ceramahnya. Akupun balik ke kelas dengan perasaan ceria, seperti biasa. Buat apa aku sedih?

“Hyorin-ah, kau dari mana?” Tanya teman sebangku ku, Oh Sera. Aku hanya menatapnya dengan arti ‘seperti biasa’. Sera pun tidak menanyakan lebih jauh lagi. Aku pun segera mengeluarkan HP touch ku yang tersimpan di dalam kantong rok super besar ku. Setelah mengecek beberapa pesan dan update-an tentang SHINee tentunya. “Sera hari ini SHINee pulang dari Jepang akhirnya, berarti Minho-oppa akan masuk hari ini!!” Kataku sambil tersenyum sumringah. Aku memang number one fan nya si Flaming Charisma, Choi Minho!! Dan beruntung nya aku satu sekolah dengannya. Choi Minho adalah sunbae ku. Aku masih kelas 10 dan dia adalah kelas 11.

Aku sangat menantikan jam istirahat. Karena pada jam segitu biasanya Minho akan bermain basket atau sepak bola di lapangan outdoor sekolah. Kkkk.

Jam istirahat…

Aku segera menarik tangan Sera yang masih bersiap-siap untuk makan bekal nya. “Yak!! Hyorin!” “Mwo ya?”

Ternyata karena terlalu bersemangat aku sampai lupa aku menarik-narik Sera yang larinya tersengal-sengal. Padahal lariku sangat lamban. Kami pun duduk disalah satu bangku di bawah pohon tidak jauh dari sisi lapangan. Sera pun mengeluarkan kotak bekal nya. Hyorin juga. Sambil menunggu sunbae itu datang akhirnya Hyorin pun makan dahulu.

Tidak lama kemudian, terdengar suara jeritan-jeritan dari berbagai penjuru. Itu tandanya sang pangeran sudah datang! Waaaaah dia keren sekali hari ini. Kau tau dengan potongan celana bahan berwarna coklat panjang lalu di atasnya memakai kemeja lengan pendek yang urak-urakan karena tidak dimasukan kedalam celana. Lalu dasinya yang dipakai asal-asalan. Dengan tangan kanannya menenteng jas sekolah. Oh My God. Lukisan mu memang begitu indah.

Aku masih memakan bekel X-tratra ku. Sambil berdecak kagum saat melihat ia mulai memainkan bola basketnya. Sera hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah laku temannya yang satu ini. Kau tau Minho itu memang jago dibidang yang satu ini sebenarnya dia lebih jago saat main sepak bola. Tapi karena dia multi-talented dia memang jago dibidang olah raga! Kyah memang namja idaman!

“Ya!!!! Jang Hyorin awaaaaaaaaaaaas!” Tiba-tiba Sera berteriak kencang sekali. Diikuti beberapa teriakan yang lainnya.

DUK

Aw… Kepalaku pusing sekali. Tiba-tiba semuanya gelap.

~*~

“Ya! Yeoja besar! Bangun” suara Sera mengisi telingaku. Lalu Sera berbisik tepat di sebelah kepalaku, “Kalau kau tak mau mendengar kabar gembira tak usah bangun.”

Aku pun akhirnya membuka mataku yang masih berat. Rasa nyut-nyutan juga masih menyerang kepala. Walaupun sudah hilang sedikit. Aku menengokan wajahku ke arah Sera. Tapi, tunggu… Itu dibelakang Sera? Malaikat!! Ah bukan!!! Itu apa!!! Makhluk jelmaan!!! Oh tidak tidak itu CHOI MINHO!

“Jeongmal Mianhe, tadi aku tidak sengaja saat ingin mengoper bola malah meleset.” kata namja bertubuh tinggi itu di depanku. Dia berbicara padaku astaga. Aku tak percaya tapi inilah kenyataannya. “Ne, gwenchana sunbae” kataku sambil tersenyum ‘sok’ lemah HAHAHA

“Kalau begitu aku balik ke kelas ya?” Katanya meminta jawaban dari ku. Aku hanya bisa mengangguk. Tepat setelah pintu ruang UKS tertutup akupun langsung terduduk. “YA AMPUN SERA-YAAAAAA DIA DIA CHOI MINHO BERBICARA PADAKU. AIGO PIPIKU KENA LEMPARAN BOLA DARINYA” teriakku histeris. Sera yang sudah kebal dengan teriakan yang sangat memekikan itu pun hanya memainkan hp nya santai.

“Kau tau hyo Minho-sunbae tadi menggendong mu” aku tercengang? Apa Minho kuat? Aigooo memang namja sejati. “Jangan berfikir hanya sendiri. Tentu saja dengan 4 orang lainnya. Tidak mungkin dia kuat mengangkat mu hyo”

Akupun menjitak kepala Sera. Dia memang to the point jika berbicara padaku. “Ayo kau sudah pasti kuat berjalan, balik ke kelas sekarang!”

“Anniyo, aku masih lemah Sera-ya” kataku sok-sok terkulai lemas. Padahal maksudku biar tidak mengikuti pelajaran Cho seosangnim. Ya pelajaran matematika. Aku sedang malas melihat angka-angka. Sebenarnya memang selalu malas sih kkkk

“Bilang saja kau malas Hyo” aku hanya cekikikan. “Kalau begitu aku ke kelas dulu. Annyeong. Hati-hati UKS itu kan…” ANGKER! Kyaaaaah aku langsung turun dari tempat tidur. Gagal sudah rencana ku membolos pelajaran Cho seosangnim. Dan akhirnya akupun menghabiskan waktuku duduk dengan tidak manis di tempat duduk ku.

~*~

Semenjak saat itu akupun memberanikan diri menyapa Minho-sunbae. Sudah lebih dari sebulan aku semakin dekat dengannya, Sera tentu juga jadi dekat dengan Minho sunbae. Dan Minho pun selalu membalasnya bahkan dengan senyuman yang lebih manis. Kadang aku juga diajak pulang bersamanya. Aku rasa aku juga mempunyai kesempatan untuk bersamanya?

Aku sedang berjalan menuju tempat dimana aku selalu menontonnya bermain bola. Sambil menggenggam sebotol air putih. Lalu memainkan game di iPodku. “Haaa aku capek” tiba-tiba suara berat seorang namja terdengar. Aku segera tersenyum simpul. Lalu mengambil botol minuman yang ku bawa tadi.

“Igo” kata ku sambil menyodorkan botolnya ke arah namja itu. Lalu meng-pause game yang ku mainkan dan memasukan iPod nya ke dalam kantong baju.

“Kau tidak memperhatikanku lagi saat main di lapangan, wae?” Eh? Dia jadi tau kalau aku kesini memang untuk melihatnya? ahhh jadi dia memperhatikanku?

“Mmm aku cuma sedang ingin mencoba permainan baru di iPodku” lalu Minho cuma ber oh ria. “Wae?” Kini aku yang memberikan pertanyaan kepadanya.

“Ani, rasanya aneh saja kalau seseorang yang biasanya memperhatikanku lalu tiba-tiba tidak” aish sunbae membuat pipi bulatku panas. Kau tau daritadi banyak mata yang melihat kami berdua disini. Hal itu berlangsung selama seminggu belakangan ini. Karena memang Minho jadi sering kesini sehabis main.

“Sera tidak ikut kesini?” Minho celingak-celinguk melihat sekitarnya. Ohya hari ini Sera tidak ikut menemaniku karena belum menyelesaikan PR nya. Aku menggeleng.

“Sera harus menyelesaikan PR nya sunbae.”

Minho pun tiba-tiba beranjak dari tempatnya duduk. “Ahhh sepertinya aku lupa aku juga belum mengerjakan PR kimia ku.” Kata Minho sambil memukul keningnya pelan seperti kelupaan sesuatu. “Kalau begitu aku balik dulu ya” ia mengacak rambutku sekilas lalu Minho segera berjalan meninggalkan ku.

Ha!! Dia mengacak rambutku lagi :3 aku tidak akan mencucinya hari ini.

~*~

“Yak! Yeoja malas cepat berhenti makan kalau tidak mau badan mu itu tambah melebar.” Kata eomma sambil berusaha menarik piring yang sedang ditanganku.

“Eomma aku lapaaaar!” Teriakku histeris. Tapi tidak peduli eomma tetap mengambilnya secara paksa. Eomma ku itu adalah model yang lumayan terkenal di Korea! Tentu saja badannya sangat bagus. Tapi kenapa aku bisa seperti ini? Ck ya karna eomma! Eomma juga sangat suka memasak. Dan makanannya itu sangat enak dan dari dulu eomma tidak pernah protes kalau aku makan. Tapi akhir-akhir ini semenjak aku masuk SMA eomma jadi sering melarang ku memakan ini itu. Hhhh tidak konsisten!

“Eommaaaa” aku meraung-raung saat akhirnya eomma melenggang keluar dan mengunci pintu kamar ku. Aku menggedor-gedor pintunya. Aih ottoke? Perutku kasian perutku sebentar lagi sepertinya akan kempes. Eh! Tunggu.

Aku langsung berlari ke arah lemari kaca ku dan membuka laci paling atas. Aha! Ini dia penyelamat-penyelamat ku. Sebatang coklat dan kripik kentang rasa rumput laut. Eomma aku anak mu memang masih punya otak^^

Dan aku pun mulai melahapnya dengan semangat 45!!!

~*~

Saat hari sabtu eomma ku mengajak ku ke suatu tempat. Katanya sih ingin makan malam dengan kerabatnya. Aku dipaksa memakai dress. Dan rambut ku ikat cepol ke atas dengan menyisikan sedikit rambut. Apa ku bilang aku sebenarnya tidak jelek-jelek sekali. Tapi eommaku yang kelewat gaul ini memaksaku untuk memakai make-up. Memangnya mau kemana sih harus berpakaian seperti ini.

Selama perjalanan eomma ku bercerita tentang kerabat yang akan ditemuinya ini. Dari siapa dia dan apa pekerjaannya. Sampai dia menjelaskan anak-anaknya dan salah satu anak nya yang ganteng dan katanya artis itu. Aish siapa pula?

Sampai di restaurant yang cukup mewah itu pun kami melangkah ke suatu ruangan yang sepertinya sudah dipesan khusus.

Kami sampai di depan pintu kayu besar yang harus digeser kalau mau membukanya. Eomma ku masuk duluan. “Annyeong HA!!!….”

Andwae!!! Inikah yang disebut artis itu? Aigo ottoke?!?! “Hyorin ayo perkenalkan dirimu.”

Masih setengah sadar akhirnya akupun mengenalkan diri sambil takut-takut melirik namja keren di depan ku ini. “Jang Hyorin imnida.”

“Annyeong Hyorin-ah, apa kau lupa dengan ahjussi?” Mwo ahjussi siapa-_- aku pun menggelengkan kepalaku. Bagaimana bisa aku mengenal ayahnya? Ahjussi didepanku menepuk pundak anaknya itu.

“Annyeong haseyo. Choi Siwon imnida. Bagapseumnida” siwon ya siwon super junior! Andwae ini pasti mimpi. Siwon tersenyum ke arah ku.

Kami pun duduk di tempat kami masing-masing. Dengan perasaan canggung tentunya. “Aigo Siwon, kau sudah sangat besar dan tampan tentunya. Hyorin sering sekali melihat mu di TV dan tentu terus memuja-muja mu” aigo eomma… >< Aku menyumbunyikan wajah ku yang sudah semerah kepiting rebus.

“Wah, kamsahamnida hyorin-ah.” Katanya sambil tersenyum sangat manis dan berkarisma tentu saja.

“N..ne”

Untung saja tidak lama setelah itu makanan yang kami pesan pun datang. Aku terus makan tanpa memedulikan manusia ganteng didepanku ini. Eomma dan ahjussi itu terus berbincang-bincang. Coba appa ada disini. Huh sayangnya appa sedang bertugas diluar negri. Setelah makan ku kira kita akan langsung pulang tapi ternyata tidak. Ahjussi itu terus saja memaksaku untuk ingat siapa dia. Aku benar-benar lupa. Bahkan aku tak tau bahwa aku pernah berteman dengan siwon-oppa.

“Baiklah sepertinya kita harus memulai pembicaraan inti pertemuan kita ini.”

Inti? apa tujuan sebenarnya?

Choi ahjussi dan eomma membuatku bingung. Apa jangan-jangan eomma dan choi ahjussi sebenarnya saling mencintai dan eomma memutuskan untuk menikahinya lalu meninggalkan appa? Andwae!!!

“Kau akan dijodohkan dengan anak ku, Hyorin-ah. Otte?” Mmmmwo? Dijodohkan? Dengan anaknya? Aku masih tidak bisa berkata-kata. Choi siwon calon suamiku? TvT ini namanya seperti hujan uang jatuh ke permukaan bumi. Aku melirik ke arah siwon yang masih tetap tenang dan ke ahjussi itu berkali-kali. “Anni, bukan dengan siwon, sweetheart” kata ahjussi itu sambil terkekeh. Lalu sama siapa? Memangnya siwon-oppa punya saudara lagi? :/ aku memasang wajah tanda tanya.

“Yoboseyo? kau dimana huh? Kami sudah lama menunggu” tiba-tiba siwon oppa sudah menggenggam hp dan sedang menelfon seseorang. “Yasudah kau harus cepat kesini sebelum appa ngamuk!” Siwon oppa pun menutup telfonnya.

“Sebentar lagi dia sampai appa, katanya dia bersama eomma juga” choi ahjussi pun tersenyum. Siapa sebenarnya siapa?

Tidak berapa lama suara pintu digeser pun terdengar kami pun berdiri menyambutnya. “Annyeong haseyo” sapaku ramah sambil membungkuk. Ketika tegap lagi. Aku pun terkejut. “CHOI MINHO?”

~*~

Entah mengapa semenjak pengumuman aku dan minho dijodohkan. Sepertinya minho oppa menjauhi ku.

Di sekolah pun kalau kami berpas-pas an kami hanya saling tersenyum saja. Aku juga jarang ke bangku dipinggir lapangan itu lagi. Aku lebih suka menghabiskan waktu di dalam kelas saat ini. Atau ke perpustakaan saat sedang agak bosan. Ya terakhir mungkin hanya kekantin untuk membeli pasokan makan ku hohoho

Untuk bagian bahwa Choi Minho dan Choi Siwon itu bersaudaraan ya memang mereka satu eomma dan satu appa. Namun ntah kenapa mereka menutupinya. Alasannya sih waktu itu saat Minho mengantarku pulang setelah acara pengumuman perjodohan kami itu, ia tidak mau membawa-bawa hyungnya itu untuk alasan ketenarannya sekarang. Maka dari itu aku disuruh Minho agar tidak berkata kepada siapapun tentang hubungan darahnya dengan Siwon oppa dan dia juga melarang ku untuk memberi tau kepada orang-orang tentang perjodohan kami. Hm ya dia bilang itu demi keselamatan ku sendiri. Aku juga tidak mempermasalahkan nya terlalu banyak, walaupun ada sesak dihati.

“Sera-ya nanti pulang sekolah bareng ya. Kau ekskul kan?” kataku kepada Sera saat membereskan segala perlengkapan sekolah yang tercecer dimeja.

“Mian aku tidak bisa menemanimu pulang.” Sera pun memasang wajah memelasnya.

“Ahhh ne gwenchana, aku pulang sendiri saja kalau begitu”

2 jam telah berlalu.

Ekskul pun akhirnya selesai. Setelah berpamitan kepada teman-teman satu ekskul ku, akupun pergi meninggalkan ruangan.

Aku berjalan melewati lorong sekolah yang mulai sepi. Tiba suara isakan seseorang wanita terdengar di pendengaranku. “oppa sampai kapan? Kau tau aku sudah tidak kuat menyembunyikannya!!!” Teriak yeoja itu. Bukankah itu suara Sera? Aku pun berjalan pelan-pelan untuk menguping.

“Sera-ya, aku akan segera memberi tau ini semua kedepan publik tenang sera-ya. Kau harus mengerti pekerjaanku.”

Itu suara…Minho oppa?

“Dan masalah Hyorin. Kau tau aku tidak mungkin menyukainya!! Kau tau itu. Aku tidak mungkin menyukai yeoja gendut seperti dia!” Tidak…ini salah pendengaranku. Tapi ini semua seperti jelas sekali. Aku benar-benar merasa bodoh. Mataku mulai terasa panas. Kaki ku pun benar-benar tidak bisa menopang tubuhku ini. “Aku hanya mencintaimu Oh Sera.” Suara minho oppa terdengar lirih.

Pabo…jeongmal paboya, Jang Hyorin…

Aku memberanikan mengintip mereka. Kini mereka sedang berciuman di depan mataku. Sungguh air mataku sudah tidak dapat dibendung lagi. Beribu-ribu cara untuk memikir kan bagaimana caranya aku bersembunyi supaya mereka tidak menyadari keberadaanku. Aku langsung berlari memutari sekolah menuju jalan satunya lagi dan akhirnya sampai ke gerbang depan. Aku tidak tau bagaimana wujudku saat ini. Yang pasti sangat mengenaskan.

~*~

Semenjak saat itu. Aku bertekad untuk kurus!!! Sungguh aku harus membuktikan kepada Minho. Dan dia akan menyesali perkataannya waktu itu.

Ngomong-ngomong aku pindah ke Jepang untuk 6 bulan ini. Sampai kenaikan kelas 11. Kebetulan appa juga sedang dinas disini. Eomma juga ada job modelling di Jepang. Kini sudah 2 bulan disini. Dan kau tau beratku sudah turun 10 kg? Ya… Terimakasih lah aku dengan Choi Minho yang membuat ku seperti ini.

Lihat saja 4 bulan lagi aku akan kembali ke Seoul.

~*~

Author’s POV

“Hoaaa!! Apa itu jang hyorin?”

“Cantik omo neomu yeppeo!!”

“Aish aku harus mendapatkan nya”

“Lihat tubuhnya, apa dia oplas?”

“Jadi dia hilang selama 6 bulan ini untuk mengkuruskan diri huh?”

“Aih aku iri padanya!!”

Kata-kata itu terdengar dari segala penjuru sekolah menengah ke atas elit yang berada di tengah kota Seoul itu. Kini seorang yeoja berparas seperti putri dan badan yang tinggi serta ideal sedang melangkah menuju kelasnya. Ahh dia sangat rindu dengan sekolah ini.

“Yak!! Jang Hyorin!” Tiba-tiba sebuah tangan memukul kepala hyorin dari belakang. Hyorin meringis kesakitan. Dan memutar balikkan tubuhnya. Sera sudah berdiri didepannya ya ehm… Bersama Minho. “Neo! Dari mana saja huh”

“Mianhe Sera-ya. Appa ku dinas di Jepang dan eomma ada job disana, mau tak mau ya aku ikut” kata Hyorin jujur. Walaupun ada alasan lain tentunya. “Annyeong Minho-sunbae, lama tidak bertemu” hyorin menyapa Minho sambil tersenyum manis.

“Annyeong Hyorin-ah” ah suara itu. Andwae! jangan sampai terbawa perasaan itu lagi.

“Kau di kelas mana Sera? Aku di 11.3” kata Hyorin sambil menunjukkan kertas pengumuman kelas yang memang diberikan ke masing-masing siswa. Sera menunjukkan kertasnya juga. Dan ternyata mereka berdua sekelas lagi.

Hyorin memasang wajah seperti dia belum mengetahui bahwa Sera dan Minho sudah bersama. Lagi pula saat dia meninggalkan Seoul dia pun tidak dalam keadaan tahu menau tentang hal ini. “Ah Sera kalau begitu kita bersama kesana eo?”

“Ne”

Saat menarik Sera. Bisa Hyorin lihat dari ujung kedua matanya bahwa tadi Sera & Minho saling bertatap dan tersenyum. Hhh kenapa masih sakit disini?

~*~

Hari ini pun berlalu begitu saja. Dan tau kah bahwa nanti malam kata eomma akan diadakan makan malam bersama keluarga Choi dirumah keluarga Choi itu sendiri. Pastinya membicarakan tentang Hyorin dengan Minho.

Tidak seperti dulu memilih dress seada-adanya. Kini Hyorin sudah bisa memakai dress-dress ala model-model.

Yeoja itu memilih dress tanpa lengan sepaha yang ia beli di Jepang waktu tinggal disana. Lalu membiarkan rambut panjang bergelombangnya jatuh begitu saja. Dan mengoleskan make-up natural di wajah mempesonanya.

Hyorin mengambil coat nya untuk melindungi tubuhnya dari dingin nya kota Seoul. Sekarang appa ikut makan malam bersama juga. Selama perjalanan Hyorin masih merasakan gugup. Untuk apa gugup? Huh

Kini mobil telah berhenti didepan rumah yang sangat besar. Hyorin sedikit berdecak kagum. Sesampainya didepan pintu masuk keluarga Choi sudah berdiri didepan pintu. Kau tau Siwon oppa sangat tampan dan gagah malam itu. Dan errr Minho terlihat seperti itu juga. Dibalutkan celana jeans hitam dan kaos putih lalu diluarnya memakai kemeja seperti jaket hitam namun formal yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya juga sepertinya di beri gelly supaya naik, namun masih acak-acakan namun rapih(??) Membuat dirinya…. Aish Choi Minho berhentilah membuatku selalu memujamu, kata Hyorin dalam hati.

Hyorin pun membungkuk kepada mereka semua. Lalu akhirnya mereka masuk kedalam. Hyorin memberikan coatnya kepada seorang penjaga didepan pintu.

“Aigo, Hyorin-ah kau cantik sekali malam ini. Benar apa kata eomma mu, kau benar-benar sudah berubah dalam 6 bulan ini.” Kata eommanya Minho. Pipi merah Hyorin pun makin memerah. “Kamsahamnida ahjumma”

Hyorin malam itu selalu dipuji tiada henti. Namun pujian itu tidak membuatnya bahagia. Karena satu-satu nya manusia yang bisa membuatnya bahagia itu justru tampak malas dengan adanya Hyorin dirumahnya.

“Permisi, ahjumma ahjussi, kamar mandi di sebelah mana ya?” Kata Hyorin sambil menunduk. “Ah kau ke lorong sebelah kanan itu saja Hyorin-ah lalu di sebelah kamar tulisannya Minho.” Kata Choi Ahjumma.

“Ah arrasoyo” hyorin pun melangkah ke kamar mandi. Setelah selesai menggunakan kamar mandi. Dia pun keluar dan melirik kamar yang ahjumma maksud tadi. Itu kamar Minho.

Rasa penasaran pun menyergap Hyorin. Sampai akhirnya ia berani mengintip dan akhirnya masuk ke dalam. Baunya benar-benar khas seorang namja, seorang Choi Minho. Kamar nya dipolesi cat berwarna biru muda gelap. Di dindingnya terdapat poster pemain bola yang dia tidak tau siapa. Di ujung kamar terdapat meja panjang yang menyimpan foto-foto dan berbagai penghargaan diatasnya. Aku melihat-lihat foto itu sebentar. Lalu mendapati foto Minho bersama member SHINee lainnya, disebelahnya foto ia bersama keluarganya, dan terakhir… Bukankah ini seharusnya foto minho, sera, hyorin bertiga? Kenapa sekarang hanya foto Minho dan Sera saja? Tak terasa mata hyorin pun terasa panas lagi. Dia memandangi foto itu sambil meremas ujung dressnya. Kau tau bagaimana sakitnya?

Cklek.

Tersadar seseorang datang Hyorin pun langsung menaruh foto itu kembali. Dan segera mengusap air matanya yang hampir jatuh.

“Aku tau kau akan kesini” kata suara berat dibelakang Hyorin yang semakin lama langkahnya semakin mendekat.

“Mianhe sunbae. Aku keluar sekarang.” Kata Hyorin sambil mengambil ancang-ancang untuk berbalik dan melangkah pergi. Namun sebuah cengkraman kuat berhasil membuatnya berhenti ditempat.

“Sungguh, jangan pergi lagi.” Kata suara Minho.

“Ne?” Hyorin tidak bisa menatap wajah minho. “Aku tidak mengerti sunbae”

“Kau tau betapa tersiksanya aku saat tidak menemukanmu di bangku itu lagi?”

Choi Minho jangan buat pertahananku runtuh lagi, ucap Hyorin dalam hati. “Mianhe aku masih tidak mengerti. Lepas. Orang tua kita pasti sudah menunggu diluar”

“Shireo, aku tidak peduli. Tolong tetap disini dan dengar semua penjelasanku.” Kata Minho membalikkan tubuh Hyorin menghadapnya. “Tatap mataku Hyorin-ah”

“Tolong sunbae jangan berikan aku harapan palsu lagi. Kau sudah memiliki sera dan kau mencintainya.” Kata Hyorin berusaha menahan sesaknya. “Aku sudah mendengar semuanya. Jadi tidak ada penjelasan yang harus aku dengar dari mulutmu.”

Saat hampir berhasil melepaskan tangan nya dari Minho. Tiba-tiba Minho malah mendorong tubuh Hyorin kasar dan menyudutkannya di tembok kamar Minho. “Tolong jangan pergi lagi. A…aku mohon.”.

“Lepas, atau aku akan mmmpph” Tanpa babibu lagi Minho langsung melumat bibir mungil Hyorin. Hyorin merasakan sesuatu yang hangat didasar kulit wajahnya. Minho menangis. Ya Tuhan… Kini Hyorin sudah tidak kuat lagi. Dia pun mendorong Minho lalu terduduk lemas. Tanpa diundang airmatanya pun mengalir deras.

“Kk…ku mohon oppa, aku tau kau hanya menyukai ku karena aku sekarang tak seperti dulu lagi.” Kata Hyorin masih terisak. “Kau menyukaiku karena aku sudah tidak gendut lagi.”

Hyorin menundukkan wajahnya dalam. Minho tidak bergeming setelah didorong Hyorin. “Mianhe… Mianhe… Kalau tau seperti ini akhirnya aku takkan mau mengidolakanmu seperti dulu minho.” Minho tersedak, Hyorin menyebut namanya tanpa embel-embel oppa atau sunbae. Hyorin berdiri dengan sekuat tenaganya. Dan menghapus kasar airmatanya yang masih bersisa.

“Satu lagi, jangan gunakan aku sebagai alatmu mendekati Sera.”

~*~

Semenjak kejadian itu Minho jadi sering mengirimkan sms untuk Hyorin. Isinya bermacam-macam dan itu semua membuat Hyorin uring-uringan. Di sekolah dia hanya bisa menghindari Minho. dan Hyorin juga sangat sedih tidak bisa dekat dengan Sera sedekat dulu lagi. Hyorin lebih suka menyendiri di sekolah. Walaupun banyak yang mendekati Hyorin namun Hyorin tak kunjung peduli.

Sampai suatu hari seorang anak pindahan dari China masuk ke sekolah Hyorin dan sekelas dengannya.

“Anak-anak kita kedapatan murid baru dia baru pindah dari China.” Lee seosangnim seperti memberi kode keluar pintu. Arah pandangan Hyorin langsung berganti dengan seiringnya namja itu masuk. Lalu namja itu sudah berdiri didepan kelas untuk memperkenalkan diri.

“Annyeong ha..seyo, Huang Zi Tao imnida.” aksen korea namja di depan ini masih sangat kacau. Hyorin yang memang baru melihat orang dengan aksen seperti itu sontak menahan tawanya. “Semoga kalian semua dapat menerima saya. Kamsahamnida”

Sekarang pasti muka Hyorin sudah merah karena lucu melihat Huang Zi Tao itu. Tak berapa lama ketika Hyorin sedang melihat ke arah Tao, Tao juga sedang melihatnya dengan mata yang… Aish kenapa matanya itu melihatnya dengan tatapan menusuk seperti itu? Hyorin langsung salah tingkah. Tiba-tiba Lee seosangnim sudah menyuruh Tao untuk duduk di salah satu bangku. Hyorin menatap bangku disebelahnya yang kosong. Dan hanya itu satu-satunya bangku kosong di kelas ini. Dan pastinya….

Tao sudah duduk di sebelah Hyorin. Hyorin langsung menunduk takut menatap Tao. Teman-teman sekelasnya berbisik-bisik di belakang Hyorin. Hyorin akui Tao ini sangat keren dan cool. Ahhh apa yang Hyorin pikirkan. Hyorin mengacak rambutnya frustasi.

“Hyo ssst sstt” tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dari belakang. Hyorin pun menengok ke arah asal suara tersebut. Saat melihat ke belakang teman-teman yeoja nya sudah memasang muka iri dan melas. Hft mereka tidak tau saja bahwa Hyorin justru sangat takut berada disebelah Tao.

Pelajaran pertama berjalan dengan tanpa adanya satupun suara di antara mereka yang keluar. Entah mungkin Tao masih takut-takut memakai bahasa korea nya karena belum terbiasa atau dia risih disebelah Hyorin.

Hyorin sempat melirik ke arah Tao dan mendapati Tao sedang memakai headset saat pelajaran. Hyorin sempat kesal karena Tao sepertinya sangat cuek. Dan sepertinya dari tadi guru yang lewat dan melihat Tao memakai headset juga bertampang tidak peduli. Ish siapa sih anak ini?

Saat istirahat banyak yeoja-yeoja genit yang mendekati Tao dan mengajaknya ke kantin bersama. Dan hanya di balas dengan senyum simpulnya. Hyorin juga tidak ke kantin karena semenjak diet dia hanya membawa salad atau sejenisnya yang tidak terlalu mempengaruhi berat badannya lagi. Hyorin yang sudah tidak tahan karena dicueki seperti ini akhirnya angkat bicara.
“Hmm annyeong?”

Tao tidak berkutik sedikit pun. Saat menyadari ternyata Tao masih memakai headset nya. Sambil mendengus kesal, Hyorin mengibas-ngibaskan tangan kanan nya di depan wajah Tao. Baru saat itu Tao tersadar. Dan menengok ke arah Hyorin dan menatap nya dengan tatapan mengerikan namun…cool? Hhh

“Waeyo?” Tanya Tao dengan suara yang sangat cool. Hyorin lalu tersenyum mencoba untuk tidak grogi. Tao melepaskan headset nya yang tadi masih terpasang di telinganya.

“anni, aku belum memperkenalkan diri. Hyorin imnida” kata Hyorin gugup.

“Aku sudah tau” kata Tao dingin lagi. Hyorin bingung dan Tao pun segera memberi jawaban atas kebingungan Hyorin dengan mengarahkan telunjuknya ke buku tulis Hyorin dan disitu terpampang jelas nama Hyorin. “Dan kau pasti sudah tau namaku kan?” Hyorin mengangguk. “Kalau begitu aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi.”

Aish namja ini sungguh menyebalkan! Bisa-bisanya dia duduk bersama namja ini. Tao memalingkan wajah angkuhnya. Membuat Hyorin ingin meninju Tao tepat di mukanya.

Waktu pulang pun sudah datang. Hyorin membereskan buku-bukunya yang masih ada di atas meja. Kini tinggal Hyorin dan Tao didalam kelas. Handphone Hyorin bergetar dan membunyikan ringtone Banana Potato nya Minion di trailer Despicable Me 2….(-_-“) hyorin langsung mengangkat nya tanpa mau tau siapa yang menelfonnya. Karena dia sudah terlanjur malu karena ringtone nya itu. “Yoboseyo?”

Ternyata itu Minho.

“Sudah ku bilang jangan mengganggu ku lagi.”

….

“Shiroh! Aku tak mau pulang denganmu. Dan jangan ganggu aku lagi!” Hyorin langsung menutup telfonnya dan menaruh hp nya ke dalam kantong jas sekolahnya. Dan menggendong tas ranselnya dengan kasar. Dan keluar kelas dengan tampang kusut.

Tao yang dari tadi hanya memerhatikan yeoja yang duduk di sebelah nya itu lalu menarik nafas panjang-panjang. Sungguh hari ini adalah hari yang melelahkan untuk jantungnya.

~*~

Sudah beberapa minggu setelah kepindahan Tao ke sekolah namun mereka masih saja diam-diaman lagi pula Tao memang sulit diajak komunikasi. Walau sebenarnya Tao juga memperhatikan Hyorin.

Suatu hari, Hyorin sampai di sekolah pagi-pagi seperti biasa. Dan mendapati bangku sebelahnya sudah terisi oleh seseorang. Tao.

“Pagi.” Sapa Hyorin kepada penunggu bangku sebelahnya. Lagi-lagi Tao tidak mengubrisnya. Pantas saja! Tao memakai headset lagi. Hyorin langsung mendudukan dirinya dengan kesal. “Namja budek” kata Hyorin sambil menaruh tasnya di bawah meja.

“Neo… Panggil aku apa tadi?” Hyorin langsung terkesiap. Ternyata Tao mendengarnya.

“Anniyo…. Aku tidak bilang apa-apa” jawab Hyorin gugup karena Tao menatapnya seperti pertama kali mereka bertemu lagi. Seram.

Tao langsung melepas headsetnya dan berkata, “kalau kau ingin aku dengar bilang saja. jangan katakan aku namja budek.” Kata Tao. Dan memutar bangkunya menghadap Hyorin. Hyorin langsung salah tingkah.

“A..apa yang kau lakukan huh?”

“aku akan mendengarkan mu jika itu yang kau mau. Bicaralah dan aku akan membalas kata-kata mu” tao sungguh menyeramkan. Tapi tunggu Hyorin merasakan ada yang salah dengan jantungnya. Aduh wajahnya sekarang memanas. “Balik ke posisimu!!” Hyorin berusaha mendorong bangku Tao agar balik ke posisinya namun sepertinya tenaga Tao lebih besar.

“Kenapa wajahmu memerah? Kau suka padaku? Woaaah keren!!” Tao tertawa melihat Hyorin yang salah tingkah. Ah tidak ini sungguh memalukan, batin Hyorin.

“Yak!! Berhenti! Kau mengahabiskan kapasitas kesabaranku hari ini. Menyebalkan!” Kata Hyorin sambil beranjak dari tempat duduknya. Hyorin langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Tao hanya tersenyum-senyum melihat tingkah laku Hyorin.

“Lihat saja kau pasti jadi milikku Hyoo~”

~*~

Di toilet Hyorin langsung membasahi mukanya terus menerus berusaha menghilangkan semburat merah yang timbul. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding toilet dan mendekatkan tangannya ke dadanya. Ia merasakan jantung nya berdegup sangat kencang. Ia belum pernah merasakan jantungnya berdebar seperti ini. Waktu bersama Minho juga ia tak pernah merasakannya.

Hyorin mengacak-acak rambutnya frustasi dan membasuh wajahnya lagi untuk terakhir kalinya. Dan memutuskan untuk balik ke kelas.

Sesampainya di kelas Hyorin mendapati kelasnya masih sepi. Karena memang Hyorin pasti sampai sangat lebih dulu dari teman-temannya yang lain. Hanya ada 4 tas yang ditinggal dan yang mempunyainya entah kemana. Dan manusia yang ada disitu adalah Tao. Tao masih memosisikan tempat duduk nya seperti tadi. Dan kini ia sedang tersenyum-senyum sendiri. Entah mengapa Hyorin jadi ikut senyum-senyum sendiri.

“Pagi chagiyaaa” tiba-tiba suara berat yang mulai ia tidak sukai muncul dibelakangnya. Membuat Hyorin langsung maju beberapa langkah. “Kenapa kau jadi takut kepadaku? Bukankah dulu kau sangat menyukaiku?” Minho berdecak lidah dengan pede.

“I itu dulu.” Kata Hyorin dingin. Dan tak mau menatap langsung ke wajah yang sering dia fikirkan itu.
“Kalau begitu kenapa tidak mau menatapku huh?” Ucap Minho dengan angkuh. “Kau masih menyukaiku kan?”

“Andwae! Aku sudah punya kekasih baru!” Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja di kepala Hyorin.

“Huh siapa? Aku tetap calon suami mu disini. Siapa yang berani merebut calon istriku” kata Minho mencari-cari kekelilingnya.

“Aku tak sudi denganmu, Choi Minho!”

“Lalu, tunjukkan padaku siapa namja itu!!! Hah?!” Minho mulai menyeramkan di depan Hyorin.

Tao dari tadi hanya melihatnya dengan pandangan yang sulit dimengerti. Tiba-tiba Tao berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Hyorin dan Minho. Dan menarik Hyorin menjauhi Minho.

“Aku namjachingu nya! Kau puas?!”

~*~

Hyorin’s POV

“Aku namjachingu nya! Kau puas?!”

DEG

Aku tidak menyangka bahwa akhirnya Tao lah yang menjadi namjachingu palsu ku itu. Muka Minho sunbae sudah tidak bisa kujelaskan mimiknya. Entah kesal, sedih, senang, mencibir, atau apa! Ah aku tak peduli. Tapi kenapa ada sedikit rasa sedih harus bersikap seperti ini kepada Minho sunbae. Ya!! Hyorin kau tidak boleh seperti ini.

“Aku tidak percaya kau adalah namja chingu Hyorin.” Kata Minho sunbae yang terdengar mengerikan. Tiba-tiba Tao menarik tubuhku mendekat dan melingkarkan tangan kirinya di pinggangku dan menciumku selama 5 detik. Nafasku langsung tercekat dan masih menutup mata tidak berani menatap Tao. “Sudah percaya? Sekarang jangan ganggu Hyorinku lagi.” Kata Tao tegas.

“Jangan harap aku akan mau bersamamu Hyorin. Aku akan segera meminta pembatalan perjodohan ini dengan keluarga kita berdua! Kau benar aku hanya menyukaimu karena fisikmu yang sekarang!”

Minho sunbae langsung meninggalkan kami berdua. Ia menyenggol bahu Tao. Saat kudengar pintu dibanting keras. Aku langsung jatuh terduduk tapi air mataku yang terbendung itu tidak dapat jatuh. Hanya sesak yang ku rasakan. Dan menyadari betapa bodohnya aku bisa menyukai namja seperti orang itu. Tiba-tiba kurasakan tangan ku digenggam oleh seseorang. Rasanya sangat hangat. Namun dengan kesadaran sepenuhnya aku langsung menarik tanganku dari tangan Tao. Dan berdiri menuju bangku ku. Dan berusaha bersikap seperti biasa. Agar tidak ada yang curiga.

***

Author’s POV

Tao masih terdiam ditempatnya. Memandang tangannya yang tadi dihempaskan begitu saja oleh Hyorin. Tapi kedua sudut bibir Tao terangkat membentuk sebuah senyuman.

Tidak tau apa yang dia fikirkan. Namun hati kecilnya berkata bahwa dia harus menjaga yeoja ini.

~*~

Tao berjalan ke kelasnya. Setelah membeli beberapa potong roti dan susu kotak rasa coklat di kantin. Disekitarnya yeoja-yeoja mulai berbisik-bisik, beberapa dari mereka baru saja melihat Tao. Pantas saja mereka baru terpukau sekarang. Karena Tao juga baru kali ini menampakkan batang hidungnya diluar kelas saat jam istirahat. Tao hanya cuek melewati yeoja-yeoja yang agak centil itu. Ada yang mengibas-ngibaskan rambutnya seperti model ikan shampo ada juga yang pura-pura jatuh supaya di tolong Tao. Tapi baginya semua itu tidak penting untuk di respon. Namja bermata tajam itu hanya terfokus untuk satu orang saat ini. Sampai dikelas Tao langsung menuju bangkunya.

Sedaritadi Hyorin tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Saat di tanya apakah Hyorin membawa makanan atau tidak Hyorin hanya menggeleng dan memainkan iTouch nya lagi. Lalu membuka-buka novel yang dia bawa tanpa dibaca sekata pun. Tao yang melihat aksi yang ditunjukkan Hyorin akhirnya tidak tahan dan memutuskan untuk membelikan Hyorin makanan apapun asalkan dia mau makan. Walaupun Tao sebenarnya tidak tau apakah makanan yang dia beli mau dimakan oleh Hyorin.

Hyorin sedang menumpukan wajahnya di atas meja beralaskan kedua tangannya. Tao lalu meletakkan makanan dan minuman nya di depan kepala Hyorin. Dia memasang headset yang sudah tersambung oleh mp3 player miliknya dan menyandarkan badannya ke bangku yang dia duduki, sambil sesekali melirik ke arah Hyorin.

Tidak lama kemudian Hyorin pun terbangun dari renungannya yang sangat lama itu. Dan menyadari ada roti dan susu di depannya. Dia melirik ke sekitarnya mencari orang yang meletakkan makanan itu. Dia melirik ke bangku disebelahnya. Tao sedang tertidur sambil memakai headset. Apa mungkin dia?, ucap Hyorin dalam hatinya.

Hyorin lalu mengambil roti yang masih terbungkus oleh plastik itu. Sebenarnya dia memang sangat lapar. Namun kemalasannya untuk bergerak menjadi alasan utama. Lalu dia menyobek setengah rotinya itu. Dia menarik-narik pelan kemeja yang dipakai Tao. Tao yang sepertinya sudah enak-enak tertidur lalu terbangun karena Hyorin.

“Gomawo” ucap Hyorin pelan.

Mungkin hanya Tao yang bisa mendengarnya. Tao lalu tersenyum, senyum hangat yang belum pernah Hyorin lihat. “Igo, untukmu” hyorin menyodorkan setengah potongan roti yang dia sobek tadi. Tao menatap bingung ke arah Hyorin.

“Aku yakin kau juga belum makan. Sebagai tanda terimakasih ku karena telah membelikan ini.” Kata Hyorin sambil menunjuk roti dan susunya. Tao mengambil roti itu dari tangan Hyorin.

“Gomawo,” kata Tao, Hyorin menunggu Tao memakannya. Sadar karena Hyorin menunggunya akhirnya “kau duluan yang makan Hyo. Aku mau melihatmu menelan itu dulu.”

“Err baiklah” ucap Hyorin sambil mengambil rotinya. Tidak tau mengapa Hyorin tidak bisa menolak permintaan Tao. Hyorin memasukkan rotinya ke dalam mulutnya, lalu tersenyum ke arah Tao. Dan itu juga bukan Hyorin yang mau, tapi bibirnya yang bergerak sendiri.

“Neo.” Hyorin menghadapkan wajahnya ke arah Tao saat dia merasa dipanggil. “Pulang denganku hari ini, arraso?”

“Eh…tidak…”

“Kau harus mau. Aku tidak terima penolakkan.”

Hyorin hanya mengangguk kaku. Tidak dapat menatap Tao lebih lama lagi. Perlahan-lahan bayangan Minho lenyap dari kepalanya.

~*~

Saat pulang sekolah Tao mengajak Hyorin ke taman dekat sekolah. Dia bilang pada Hyorin semenjak kepindahannya ke Korea dia senang sekali menemukan tempat ini. Dan menetapkannya menjadi spot favoritnya.

Hyorin meletakkan tasnya di atas bangku taman itu dan memakan blueberry cheese cake yang tadi sempat di beli nya di kantin bersama Tao.

“Enak?” Tanya Tao. Hyorin mengangguk. Lalu terdiam dan menyodorkan sendoknya ke Tao. Lalu mengisyaratkan Tao untuk membuka mulutnya. Setelah menyuapi Tao akhirnya Hyorin tersenyum manis. Membuat Tao sedikit sulit bernafas.

“Hyoo kau punya tissue?” Tao bertanya kepada Hyorin yang masih lahap dengan cake nya itu. “Punya kau cari saja di dalam tas ku”

“Apa tidak apa-apa?” Hyorin mengangguk tidak mau konsentrasi makannya terpecah. Saat merogoh-rogoh tas milik Hyorin sesuatu keluar dan terjatuh. Ternyata buku catatan kecil milik Hyorin. Ke adaan buku itu sekarang terbuka dan sebuah foto tercecer. “Nugu?” Kata Tao bingung saat melihat foto itu. Seorang yeoja yang badannya berisi terpampang disitu sambil memegang lollipop. Hyorin sadar ternyata foto itu sudah ada ditangan Tao. “Ya!! Apa yang kau lakukan?!”

“Ini kau?” Tao menaikkan sebelah alisnya.

“Ne!! Memang kenapa huh?! Balikkan!!” Hyorin berusaha menggapai-gapai foto miliknya itu.

“Wah kau hebat bisa jadi seperti ini! Waaa” Tao takjub melihat Hyorin yang sekarang badannya seperti seorang model.

“Wae?! Huh!” Hyorin menyerah dan duduk lagi sambil memajukan bibirnya.

Tao merogoh saku celananya dan membuka dompetnya yang simpel khas namja itu. Tiba-tiba ia menyelipkan foto itu di dompetnya. “Seperti ini lebih baik? Untuk apa disimpan untuk diri sendiri dan melihatnya sendirian?”

Hyorin terpaku melihat apa yang dilakukan Tao. “Tetap Yeppeo” kata Tao sambil melihat ke dompetnya yang masih terbuka itu. Lalu menyimpannya di kantongnya lagi. “Tenang aku tidak akan menghilangkannya dan akan awet didalam dompetku”

“Kajja kita pulang Hyo?” Tao berjalan mendahului Hyorin yang masih terbengong-bengong. Baru kali ini ada namja yang bilang dia yeppeo saat gendut. Ahhh apa ini kenapa perasaan hangat menghampiriku?

~*~

“JANG HYORIN! KENAPA KAU SE ENAK NYA MEMBATALKAN PERJODOHAN INI?!” Eomma yang baru pulang tiba-tiba membetak Hyorin saat Hyorin sedang menonton TV sambil memakan pop corn. Dan sialnya karena kaget wadah pop corn yang ia genggam itu ikut terloncat. Dan beberapa butir pop corn nya berhamburan.

Eomma sudah berdiri di depan Hyorin. “Eomma….”

Hyorin takut melihat appa nya yang mengerikan itu. Eomma nya memang selalu mengerikan saat marah. “Aku….aku tidak mencintainya.” Hyorin menunduk takut melihat eommanya.

“Acara pertunangan mu sudah setengah siap dan kau membatalkan nya!”

“MWO?! TUNANGAN?!” Hyorin mengerjap-ngerjapkan matanya berulang-ulang kali.

“Eomma kan sudah bilang kalau pertunanganmu akan dipercepat. Eomma tidak mau tau kau harus mematuhi perintah ini!”

Eomma Hyorin langsung menuju ke kamarnya di lantai atas.

“Ya! Eomma shiroyo! Shiroyo!!! Shirooooh!!!” Hyorin meraung-raung sendiri. Hyorin langsung menjatuhkan dirinya di atas sofanya. Dan menangis sesunggukan. Dari awal memang Hyorin senang dijodohkan dengan Minho. Tapi makin kesini dan mengetahui sifat asli Minho membuatnya ingin mengulang waktu agar tidak mengenal seorang anak dari keluarga Choi itu.

~*~

“Ya! Kenapa melamun Hyo?” Tao mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Hyorin. Kini mereka sedang berada di bangku taman dekat sekolah. Hyorin yang mengajak Tao untuk kesini. Tapi yang ada dari tadi Hyorin malah tidak menanggapi Tao. Tao mengibas-ngibaskan tangannya sekali lagi lalu Hyorin yang menyadari langsung menggeleng. “Kau… Masih memikirkan namja kemarin ya?”

“Anniii” hyorin menutupkan rasa gugupnya saat Tao sudah mulai bertanya tentang yang kemarin. Bukan masalah dia dan Minho yang terletak di benaknya namun apa yang dilakukan oleh Tao kemarin.

“Yaaa.. Kenapa malah salah tingkah? Apa jangan-jangan kau memikirkan ciuman kita kemarin?” Tao terkekeh sambil mencondongkan wajah nya ke depan wajah Hyorin. Hyorin yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menutup matanya. Takut hal-hal yang dibayangkan nya dari tadi beneran kejadian.setelah lama menutup matanya yang ada terdengar suara terbahak-bahak yang dikeluarkan namja menyebalkan disebelahnya. Hyorin membuka kedua matanya mendapati Tao tengah memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa. “Yaaa!!! Kau memang sungguh namja yang menyebalkan Tao!”

“Kau sungguh berharap aku mencium mu lagi huh Jang Hyorin? Kau mau?” Wajah Tao sudah berada 5cm di depan Hyorin lagi. Tangan Hyorin sudah mau mendorong bahu namja didepannya. Namun terlambat Tao sudah menangkap tangan Hyorin lalu meletakkan nya tepat didada milik Tao. “Kau merasakkan itu hm?”

Hyorin tertunduk tidak berani melihat mata maut itu. Tao terkekeh melihat Hyorin. Hyorin merasakan jantung tao berdebar sangat kencang. Kalau Tao tau Hyorin juga merasakan nya sebenarnya.

“Hanya terjadi kalau bersamamu.”

Pipi Hyorin yang sudah merah bertambah merah saat itu. Karena gemas Tao pun akhirnya mencium pipi kanan milik Hyorin. “Hyo, aku tau kita baru saja dekat tapi aku…”
“Ahhhh sudah jam segini sebaiknya kita pulang, otte?” Kata Hyorin mengalihkan pembicaraan mereka berdua. “Ngomongnya kapan-kapan saja ya? Aku ngantuk sekali. Sampai bertemu besok eo?” Hyorin langsung menarik tangannya yang berada di dada Tao. Hyorin langsung beranjak dari duduknya. Dan berjalan sambil setengah berlari menjauhi Tao.

Jauh dilubuk hati Hyorin dia juga merasakan sesuatu kepada Tao. Namun jujur ia belum yakin. Lagipula dia baru mengenal benar namja itu selama 3 hari? Jadi apapun itu yang akan di bicarakan Tao tadi Hyorin berharap Tao masih bisa bersabar hingga Hyorin siap dengan keputusannya.

Sedangkan disisi lain Tao masih terbengong-bengong. Tapi entah dia yakin sekali masih banyak kesempatan yang menunggunya. Jadi ia tidak khawatir. Tao mengambil tas nya yang terletak di atas bangku dan berjalan menuju rumahnya dengan perasaan yang masih optimis walaupun terselip sedikit rasa sedih.

~*~

Seminggu kemudian.

Mau tak mau Hyorin harus dibangunkan dari kenyataan bahwa dia masih terikat perjanjian perjodohan dengan seorang Choi Minho. Dan yang paling menyedihkan baginya besok dia harus mengikuti segala prosesi pertunangan dengan namja itu. Dan sekarang ia sedang mencoba dressnya yang dibuatkan khusus untuk pertunangannya itu.

Menajubkan orang yang merancang bajunya adalah seorang namja muda yang tidak asing lagi di mata Hyorin. Yap dia adalah Kim Kibum member SHINee juga! Betapa beruntungnya Hyorin melihat langsung si diva nya SHINee itu.

“Haaa aigo Hyo-ah neomu yeppeo!” Kata Kibum atau yang biasa dikenal sebagai Key. Hyorin tersipu malu. “Bagaimana kau suka?”

“Kamsahamnida Key-ssi. Kau memang sungguh berbakat!”

Key yang mendapat pujian juga segera membungkukkan diri tanda berterimakasih.
Jujur saja Hyorin sangat jatuh cinta dengan dress yang ia pakai. Namun ia sungguh berharap dress ini bukan ia pakai untuk pertunangannya dengan Minho. Entah perasaannya untuk Minho benar-benar hilang saat ini. “Tidak sempit kan?” Key memutar-mutarkan tubuh ku untuk melihat apakah rancangannya itu perfect di badan Hyorin benar atau tidak. “Ah rasanya tidak karna kau sungguh cocok memakai ini!” Key terkekeh dan mengacung kan jempolnya.

“Sudah lepas sana! Jangan sampai saat minho datang dia melihatmu memakai ini!” Kata Key mendorong Hyorin ke dalam ruangan ganti lalu menutup pintunya dari luar. Hyorin bercermin sekali lagi sebelum akhirnya mengganti pakaian dengan pakaian yang sebelumnya dipakai untuk datang kesini. Setelah keluar dan hendak pulang Key menahan Hyorin untuk duduk bercakap dengannya. “Minumlah dulu Hyo” Hyorin menyesap teh yang disediakan oleh Key.

“Kamsahamnida teh nya enak sekali.” Hyorin tersenyum kepada Key. Key hanya tertawa lalu berubah serius lagi. Sebenarnya apa yang mau dibicarakan Key?, batin Hyorin.

“Mmm aku hanya mau bertanya. Kau sungguh mencintai dongsaengku Hyo-ah?” Hyorin tersedak mendengar pertanyaan Key itu. Hyorin bingung mau menjawabnya dengan apa. Lama, Hyorin tidak menjawab pertanyaan itu. Sampai akhirnya Key membuka suara lagi. “Ah sepertinya luka mu karena Minho belum sembuh ya?”

“Eh? Luka?” Hyorin menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu.

“Ya. Aku sudah tau tentang dirimu, Minho, Sera dulu. Maafkan dongsaeng ku itu. Dulu mungkin dia memang jahat. Tapi kau harus tau betapa dia mencintaimu sekarang Hyo-ah. Sungguh aku belum pernah melihatnya seterpuruk ini. Waktu itu hari dimana kau dicium dengan namja yang aku tak tau siapa itu dia pulang dengan keadaan kacau kau tau? Hah sunggu menyedihkan. Dia bilang bahwa dia akan membatalkan perjodohannya. Namun dia tidak bisa menyatakan itu. Dia terlalu cinta padamu Hyorin.” Kata Key panjang lebar. Hyorin masih tercengang. Benarkah apa yang Key bicarakan tadi? Hyorin masih bertanya-tanya dalam hati. Apa Key bersekongkol dengan minho?

“Eumm maaf tapi perasaanku benar-benar hilang Key-ssi. Aku juga bingung kenapa tapi semenjak kehadiran seseorang dan saat itu Minho benar-benar mengecewakan ku. Aku sudah memaafkan nya sebenarnya tapi aku lebih memilih untuk menjauhkannya jangan tanya aku kenapa. Aku hanya saja tidak mau runtuh lagi saat melihatnya. Aku…aku sudah terlanjur mencintai namja sekelasku itu… Aku… Akh” tidak terasa air mata Hyorin sudah jatuh. Tepat saat itu Key bergumam, “minho-ya?”

Hyorin menengok ke arah Key melihat. Terlihat Minho berdiri linglung disitu. “Ah baiklah, arra!” Minho menutup pintunya keras dan Hyorin sudah tidak tau namja itu akan kemana.

“Akh! Dia pasti akan mabuk-mabukkan lagi!” Key merogoh kantung celananya lalu beranjak ke meja kerjanya itu. Lalu menggenggam sebuah kunci mobil. “Kau ikut?”

“Tidak ada alasan bagiku untuk mengejarnya key-ssi.” Kata Hyorin lemah.

“Kau harus menyelesaikan ini Hyo. Setidaknya akhiri lah ini semua dengan damai? Setiap orang punya kesalahan kan Hyo?” Key menuju pintu hendak mau keluar. Akhirnya Hyorin memutuskan untuk keluar ikut mengejar Minho. Benar juga apa yang dikatakan Key. Ini harus diselesaikan dengan damai.

~*~

Menyerah mencari Minho yang entah pergi kemana akhirnya Hyorin memutuskan untuk pulang. Key mengantarkan Hyorin sampai di rumahnya. “Hyo ingat perkataan ku tadi, kau dan minho patut bahagia.” Hyorin keluar setelah mengucapkan terima kasih kepada Key. Key sungguh bijaksana. Dia bahkan bisa menjadi pendengar yang baik.

Hyorin berjalan gontai kedalam rumahnya. Ia menemukan mobil sedan putih yang bertengger di halaman rumahnya. Dia mengenali mobil ini. Hyorin langsung berlari ke dalam rumah. Benar saja Appa Eomma Hyorin, Orang Tua Minho, dan Minho sudah duduk di ruang tamu. Hyorin berjalan gontai ke arah kumpulan itu.

“Jang Hyorin. Segera duduk dan jelaskan pada kami semua.” Ucap Appa yang suaranya terdengar menyeramkan.

“Appa Eomma Ahjussi Ahjumma, Minho sunbae jeongmal mia…” PLAK. Perih hanya itu yang Hyorin rasakan. Baru kali ini Appa menampar Hyorin tapi yasudahlah memang ini yang harus ia terima. “Mianhe” ujar Hyorin sambil terisak. “Jeongmal Mianhe.”. Hyorin memegang pipinya yang panas itu.

“Ahjussi Ahjumma tidak usah menampar Hyorin. Kegagalan ini juga salah saya. Sungguh, Hyorin bukan hanya yang salah. Kami berdua mempunyai alasan untuk mengakhiri ini.” Minho sudah bersimpuh didepan orangtua nya dan orangtua Hyorin. “Kami…kami mempunyai kekasih yang sangat kami cintai.” Ucap Minho tegas. PLAK! Kini Minho lah yang mendapatkan tamparan dari appa nya.

Hyorin ikut bersimpuh disebelah Minho. Minho melirik Hyorin dan memegang tangan Hyorin penuh kehangatan. Berusaha memberi kekuatan untuk Hyorin. Minho memang mempunyai seorang yang dia cinta, itu Hyorin. Namun ia juga sadar bahwa ego nya kini tidak bisa diteguhkan.

Setelah beberapa lama dalam diam akhirnya Hyorin dan Minho disuruh untuk duduk diatas. Appa Hyorin lalu berbicara, “Kalian… Ah kami sudah tidak tau lagi! Kalau memang itu keputusan kalian. Baiklah kami menerimanya.”

“Appa eomma neomu kamsahamnida. Mianhe mianhe” ujar Hyorin sambil memeluk orang tuanya. Namun Minho malah masih menunduk. Entah harus ikutan berterima kasih atau tidak. Rasanya begitu sakit melihat yeoja yang ia cintai malah senang untuk tidak bersamanya.

“Kau tidak ikut berterima kasih he?” Tanya Appa dan Eomma Minho. “Ah kamsahamnida appa eomma…” Lalu Minho terdiam lagi.

Orang tua Minho dan Hyorin pun berbincang-bincang lagi. Untung mereka tidak ribut. Hyorin berjalan ke arah taman rumahnya dibelakang. Minho juga mengikuti Hyorin.

“Bahagia eh?” Tanya Minho sambil meneliti setiap gerakan Yeoja yang sangat ia cintai ini.

“Gomawo sunbae?” Kata Hyorin sambil mendekat ke arah Minho.

“Cheonmaneyo. Bisakah kau memanggilku dengan sebutan oppa?” Minho duduk di pinggiran kolam renang yang ada dirumah Hyorin setelah menggulung celana jeansnya.

“Ne, minho oppa!” Hyorin ikut duduk disebelah Minho. “Maaf tidak bisa menerimamu.”

“Ah tidak apa-apa. Itu juga salah ku. Apa sakit sekali sehingga perlahan-lahan rasa mu padaku mati Hyo?”

“Mianhe…”

“Jangan katakan mianhe lagi. Aku yang seharusnya minta maaf padamu” kata Minho hangat. “Kau harus langgeng dengan si namja itu arraso? Kalau tidak aku tidak segan-segan merebutmu kembali!”

Hyorin terkekeh. Lalu dia merenungi, teringat Tao yang sebenarnya belum dia terima perasaannya. Bahkan dia memutuskan pembicaraan saat Tao mengungkapkannya. Oh? Sudah berapa lama dia tidak menghubungi Tao setelah kejadian itu?

“Aku belum pacaran dengannya oppa!” Kata Hyorin sambil menggaruk-garuk kepala Hyorin yang sama sekali tidak gatal itu.

“Jinjja? Lalu kau membohongi ku waktu itu?” Minho menoyor(?) kepala Hyorin pelan. Hyorin hanya terkekeh.

“doakan saja aku oppa agar dia masih mempunyai rasa yang sama denganku!” Hyorin menunduk dalam.

“Jangan khawatir!” Kata Minho tiba-tiba. “Aku yakin dia sangat mencintaimu. Aku bisa melihatnya sejak kejadian itu Hyo” ungkap Minho sok tau.

“Ya aku berharap hehehe” Hyorin lalu menanyakan tentang hubungan Sera dan Minho.

“Ah… Kurasa dia juga mulai membenciku!” Kata Minho tertawa.

“Lah? Waeyo? Kau apakan sahabatku itu eh?” Tanya Hyorin sambil menatap tajam Minho.

“Aku bilang aku mencintaimu. Ku kira dia akan mengerti tapi sayang nya ternyata tidak.” Minho menunduk.

“Sadarilah perasaanmu itu oppa. Aku yakin kau sebenarnya mencintai dia tapi kau belum sadar saja.” Kata Hyorin lalu melanjutkan nya lagi, “Sera marah karena dia juga pasti lelah oppa. Kau bayangkan saja dia harus menyembunyikan status nya sebagai yeojachingu mu kepadaku dan kepada seluruh dunia! Atau jangan-jangan sebenarnya fans mu malah sudah beringasan menyerangnya? Tiba-tiba kau malah menyakitimu nya dengan bilang kau mencintai yeoja lain?”

Minho masih terdiam. Perlahan-lahan memori nya dengan Sera terulang. Dan dia memang kagum dengan keteguhan hati Sera. “Biar aku pikir ulang” minho mengacak-acak rambut Hyorin.

Banana aaah potato na ahhh

Tiba-tiba ringtone Hyorin berbunyi. Aish! Malu-maluin aja!, ujar Hyorin dalam hati. Minho setengah mati menahan tawanya. Hyorin mengambil ponselnya dikantung jaketnya. Lalu melihat siapa yang menelfonnya, jreng, Tao!

Hyorin langsung berdiri dan meminta izin dari Minho. Dan menjauh untuk mengangkatnya. “Yobboseyo?” Hyorin setengah kesal setengah senang. “Kau temui aku eh di taman dekat sekolah? Sekarang! Annyeong”

TUT TUTTT…

Hyorin terdiam. Lalu segera mengambil ancang-ancang untuk segera pergi. “Mau kemana?”

“Urusan penting! Pasien rumah sakit jiwa baru saja kabur!!!” Hyorin lalu berlalu melewati orangtua nya dan orang tua minho setelah berpamitan.

Hyorin terlalu senang hari ini. Tao juga harus mengetahui nya. Sekalian dia juga rindu pada Tao.

Saat sampai Hyorin menemukan Tao sudah duduk di tempat seminggu yang lalu mereka duduki. Hyorin lalu berjalan menghampirinya lalu duduk di sebelah Tao yang ternyata sedang tertidur sambil memakai headsetnya. Hyorin memandangi wajah itu cukup lama. Lalu tiba-tiba saja Hyorin ingin memegang wajah Tao yang selalu terbayang di benaknya. Hyorin menahan rasa takutnya dan membelai pipi Tao lembut. Lalu mengacak rambut Tao pelan. Dan Hyorin pun terkekeh sendiri. Saat Hyorin mau menjauhkan tangan kirinya. Tiba tangan kanan Tao menangkap tangan Hyorin yang digunakan untuk menyentuh nya. Lalu tangan kirinya merengkuh pipi Hyorin dan mendekatkan wajah nya ke wajah Hyorin.

CHU

Hyorin yang tidak siap hanya bisa gelagapan saat Tao melepaskan bibirnya dan menjauhkan wajahnya. Hyorin memukul lengan Tao walau tenaganya tak seberapa. “Aku tidak mungkin tidur saat menunggu mu Hyo. Aku hanya sedang menikmati laguku sambil menutup mata kkkk” Tao mencubit pipi tirus Hyorin. Muka Hyorin memerah karena malu.

“Aku tidak mau bertele-tele, alasanku mengajakmu kesini…”

“Ahh pabo pabo! Kau sungguh menyebalkan Tao!!!!” Hyorin hendak mau berdiri. Namun ketika ia berdiri tiba-tiba Tao menarik pinggangnya dan Hyorin pun terduduk di atas paha Tao. Tao berbisik, “Jadi yeojachingu ku otte?” Tao mempererat pelukannya di pinggang Hyorin. Tubuh Hyorin menengang. “Hyooooo~~ jebal~ saranghae” Tao membisikan tepat ditelinga Hyorin masih dengan posisi nya. Tangan Hyorin menyentuh tangan Tao yang melingkar itu. Lalu mengangguk pelan. Tao langsung berdiri, otomatis Hyorin juga ikutan berdiri. Tao langsung berjalan kedepan menghadap Hyorin. “Gomawooooo~ chagi” Tao mengecup pipi Hyorin singkat.

“Ah aku bilang apa kau akan takluk padaku!” Ujar Tao bangga. Lalu merengkuh badan Hyorin kedalam pelukannya. Hyorin merasakan degup jantung Tao dan mungkin Tao juga merasakan degup jantung Hyorin. Hyorin mempererat pelukannya.

Benarkan perasaan bisa saja berubah? Dan pasti ada jalan untuk kebahagiaan mu itu.

TheEND.

Gimana gimanaaa? Ending nya gak jelas ya? Tapi ini sesuai bayangan ku banget HAHA. Mianhe kalau ada pemilihan kata yang kurang tepat dan ada typo-typo. Maklum masih awam banget πŸ™‚ untuk nama panggilan yang ada belakang2 nya -ah/-ya mungkin memang tidak sesuai aturan tapi aku manggil sesuai enaknya dilidah aja pas ngomong kkk. Gomawo yang sudah baca dan jangan lupa untuk RCL yaaa! πŸ˜€

Advertisements

5 thoughts on “I Choose You

  1. asri says:

    Ngakak^^ senyum senyum sendiri guaaa aaaahhhhh dhyraaa bikin ff lebih banyak lagiii teruuuss fighting! \^^/ gikwang nih sedih gak dibikinin ff huahahahahahahhaa miris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s